Selasa, 10 Maret 2015

ini rezekimu lho...

“Sesungguhnya rezeki itu akan mecari seseorang dan bergerak lebih cepat daripada ajalnya.” HR. Thabrani

          Rezeki merupakan salah satu rahasia Allah. Ia tidak bisa dikalkulasi dengaan nalar manusia. Seringkali ia bergerak diluar jangkauan nalar. Seandainya contoh kawan; Gajimu bekerja 1 bulan adalah 1 juta, sedang waktu dan nilai kerjamu lebih dari itu, bisa mungkin Alloh telah akan memberimu nikmat yang lain, berupa kesehatan dan atau rizki dari arah yang kamu enggak duga. Dan atau seandainya contoh kawan, Gajimu bekerja 1 bulan adalah 2 Juta, sedang waktu dan nilai kerjamu enggak lebih dari itu, bisa mungkin kamu telah akan menerima sesuatu yang lain, berupa pengeluaran dari arah yang enggak kamu duga, dan atau ketidak puasan atas suatu nikmat. Itulah yang disebut dengan rezeki tidak disangka-sangka. Al Quran mengatakan “Wayarzughu min haitsu laa yahtasib “ (Ath-Thalaq ( 65 ) : 3). Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya. Setiap manusia yang terlahir ke dunia sudah dilengkapi dengan rezekinya masing-masing. Rasul SAW bersabda, “Allah telah menetapkan takdir semua mahluk sejak 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi“ (HR.Muslim). Oleh karena itu selayaknyalah kita tidak perlu cemas mengenai rezeki Allah SWT. Sebab Sang Pemberi Rezeki telah menjamin, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya. Dan Dia meengetahui tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Hud 6). “Persoalan rezeki sudah diatur oleh Allah SWT. Hal penting yang perlu dilakukan adalah sempurnakan ikhtiar, perkuat dengan doa, dan tawakal secara total kepada Allah. Biarlah Allah yang Maha Mengatur. Insya Allah, jika ikhtiar, doa serta tawakal kita total, kita akan diberikan kelapangan rezeki oleh Allah. Allah akan mengaruniakan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

         Dari Umar bin Khattab RA, ia berkata, “Saya mendengar Rassulullah SAW bersabda, ‘Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian seperti seekor burung, pagi-pagi ia keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar dan pulang disore hari dalam keadaan kenyang “ (HR.Ahmad dan Turmuzi). Banyak kiat untuk menjemput atau membuka keran pintu rezeki itu. Diantaranya adalah :

Pertama, 

Memperbanyak istighfar dan taubat. Allah berfirman, “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu. Dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan kebun-kebun untukmu, dan mengadakan sungai-sungai “ (Nuh (71) :10-12). Ujar Ibnu Katsir, “Maksudnya, jika kalian telah bertaubat dan beristighfar kepada Allah serta taat kepada-Nya, Dia pasti memperbanyak rezeki kalian dan memberi minum kalian dengan berkah dari langit serta menumbuhkan dan mengalirkan susu binatang ternak serta akan memberikan harta yang banyak, dan anak yang banyak.Lalu Allah akan menjadikaan bagi kalian kebun-kebun yang didalamnya beraneka ragam buah-buahan, yang mengalir di sisinya sungai-sungai“ (Ibnu Katsir Jilid 4 halaman 371).

Kedua,

Istiqamah Bersedekah /Berinfak di jalan Allah. Rasul SAW bersabda, “Bersedekahlah kalian, dan jangan (terlalu) lama disimpan dan ditahan. Sebab jika demikian, Allah SWT akan menahan (karunia-Nya) untukmu “ (HR. Bukhari ). Hadis lain, Nabi SAW bersabda “Berinfaklah semampumu, dan jangan menahan hartamu, niscaya Allah akan menahan karunia-Nya bagimu“ (HR. Muslim dan Nasai). Kilah Imam Al-Qurthubi, “Jika seseorang meyakini Allah sepenuhnya, pasti Dia akan memberikan rezeki kepadanya dengan tanpa disangka-sangka. Seyogianya ia mesti berinfak secara ikhlas dan tanpa banyak pertimbangan. “

Ketiga,

Meluangkan waktu untuk Beribadah. Rasul SAW bersabda, ”Allah berfirman ‘Wahai Bani Adam, fokuskanlah hati kalian dalam beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan lapangkan hatimu, dan Aku penuhi kebutuhanmu. Kalau kamu tidak memfokuskan ibadah kepada-Ku, maka Aku akan penuhi hatimu dengan kesibukan dan kebutuhanmu tidak akan Aku penuhi “ (Hadis qudsi riwayat Ahmad,Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim). Secara umum hadis tersebut menurut imam Al’Ala’i menjelaskan bahwa hati seseorang jangan terlena dengan kesibukan dunia, hingga ia tidak menunaikan bentuk ketaatan kepada Allah. Dalam menafsirkan firman Allah surah Al Insyirah ayat 7, Ibnu Katsir menuturkan, “Jika kalian telah selesai melakukan pekerjaan-pekerjaan duniawi, bersungguh-sungguhlah menunaikan ibadah dengan tekun. Lalu fokuskan hatimu dan ikhlaskan niatmu.” Jadi dapat disimpulkan bahwa dengan meluangkan waktu dan memfokuskan diri untuk beribadah kepada Allah dapat membukakan pintu rezeki.

Keempat,

Bersegera Mencari Rezeki di Pagi hari. Rasulullah SAW berdoa, “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi. Semoga keberkahan selalu tercurah bagi umatku yang beraktifitas di pagi hari “ (HR.Thabrani). “Shahr Al-Ghamidi menjelaskan, bahwa Rasulullah mengutus pasukan perang di akhir waktu siang. Sementara itu Shahr sebagai seorang pedagang, sering membawa barang dagangannya di pagi hari. Akhirnya ia sering mendapatkan keuntungan yang berlimpah, hingga hartanya banyak. (HR. Imam yang empat).

Kelima, 

Bersilaturrahim. Rasul SAW bersabda, “Siapa yang ingin diluaskan rezekinya, dan dipanjangkan umurnya,maka sambunglah tali silaturrahim “ (HR.Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Nasai). Dalam hadis qudsi Allah berfirman, “Siapa yang menyambung silaturrahmi, maka akan Aku sambung rahmat-Ku untuknya. Dan siapa yang memutuskan silaturrahmi, maka Aku putuskan pula rahmat-Ku untuknya “ (HR. Tirmuzi dan Abu Daud). Rahmat Allah itu bentuknya beraneka ragam, dan jumlahnya tidak terhitung. Ia bisa berupa kemudahaan dalam segala urusan, ketenangan dalam menjalani hidup, kesehatan jasmani dan rohani, keluasan rezeki dan sebagainya.

Keenam,

Senantiasa bersyukur. Allah berfirman “ … Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih “ (Ibrahim 7). Imam Al Mansyur berkomentar “Wahai manusia, jangan sekali-kali kalian mengusir kenikmatan rezeki dengan meninggalkan syukur. Sebab, dengan meninggalkan syukur, justru kalian tengah mengundang bencana. “ Syukur adalah satu keniscayaan atas begitu banyaknya nikmat yang kita rasakan dalam hidup ini.Salah satu hal yang harus kita syukuri adalah rezeki pemberian Allah. Cara mensyukurinya adalah dengan “mengalirkannya“ kepada orang yang membutuhkan. Ibarat air, jika tidak dialirkan akan tersumbat. Demikian pula dengan rezeki, jika tidak dialirkan, saluran rezeki akan tersumbat. Wallahualam.

sumber : 
1. https://www.facebook.com/notes/zulkifli-ar/rezeki-seluruh-mahluk-sudah-di-jamin-allah/204612226226985
2. https://www.facebook.com/wendy.saputro/posts/976198219059855?fref=nf&pnref=story



Minggu, 08 Maret 2015


Banyak yang mengira menjadi terbaik adalah dengan menjadi yang tercepat, yang terkuat dan yang terbesar. Padahal menjadi yang terbaik adalah tentang berdamai dengan diri sendiri dan memahami apa yang sedang terjadi. ‪#‎SelfReminder‬


yuni wiwit nugraheni

Rabu, 04 Maret 2015

Membangun tanpa slogan Syariah

Gincu dan garam merupakan dua benda yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, khususnya bagi kaum perempuan. Gincu, sekarang orang menyebutnya lipstik, adalah salah satu jenis kosmetik yang dipergunakan oleh sebahagian kaum perempuan sebagai penghias bibir. Warnanya umumnya merah, atau warna lain yang lebih mencolok dan gampang terlihat. Menurut penuturan perempuan yang sering memakai gincu, rasanya tidak ada. Gincu hanya menempel di bibir pemakainya, tidak mempunyai rasa. Walaupun nampak jelas ketika dipakai akan tetapi sipemakainya sendiri justru tidak dapat melihat bagaimana gincu itu di bibirnya ketika dipandang orang.

Garam, merupakan pemberi rasa asin terhadap makanan, hasil olahan dari air laut. Harganya murah, akan tetapi sangat menentukan lezat-tidaknya suatu hidangan. Garam ketika digunakan larut bersama makanan. Rasa asinnya baru terasa apabila makanan yang dibumbuhi garam tersebut dicicipi. Perempuan ketika berdandan boleh tidak memakai gincu, akan tetapi setiap orang kalau memasak harus membumbuhi masakannya dengan garam. Ringkasnya gincu sebenarnya hanya pelengkap, sedangkan garam penentu rasa.

Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang di antara kita ada yang berbuat dan melakukan aktifitasnya mengambil filsofi dari gincu dan garam! Yang berfilosofi gincu lebih mengutamakan dan mengedepankan aspek formalitas dan popularitas dalam setiap aktifitasnya. Semua yang dia lakukan baik secara pribadi maupun kolektif harus dapat dilihat dan disaksikan oleh orang banyak sekedar untuk memperoleh pengakuan dan atau pujian, kendatipun kemudian hanya sebatas show, tidak dapat memberi manfaat baik bagi dirinya maupun bagi orang yang melihatnya. Yang penting apa yang dia lakukan dapat dilihat dan disaksikan orang! Celakanya, banyak orang yang justru terbuai oleh warna-warna ‘gincu’ yang ditonjolkan oleh orang.
Sebaliknya, hanya sedikit di antara kita yang rela memegang filosofi garam. Orang yang memegang filosofi garam, dalam berbuat dan beraktifitas mementingkan manfaat apa yang dilakukan baik untuk dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Berbuat bagi orang tipe ini tidak harus diketahui oleh orang lain, bahkan kalau perlu merahasiakan identitas dalam berbuat baik, tetapi yang penting baginya ialah azaz manfaat pada setiap perbuatannya.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sudah muak dengan penampilan orang-orang dan sekelompok orang yang sepintas bagai pahlawan, namun kepahlawanannya tidak lebih dari penampilan gincu; terlalu banyak teori, konsep dan program yang dikemukakan sekedar untuk menarik simpati publik namun tidak ada realisasi. Orang berperilaku seperti ini tidak menyadari bahwa formalisasi dan publikasi yang berlebihan tentang ‘kebajikan’ seseorang justru mengaburkan dan menghilangkan rasa (manfaat) dari suatu perbuatan. Hanya sesaat dan tidak memberi rasa apa-apa, dan hanya sedikit orang yang mau berbuat kebajikan tanpa diketahui oleh orang lain.
Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, Para Ulama NU termasuk yang mengamalkan filosofi garam, yakni lebih mengutamakan subtansi ketimbang formalitas. Para Ulama NU termasuk juga Muhammadiyyah menganggap tidak penting teriak - teriak Syariah dalam memformat dan membangun bangsa ini, namun lebih memperjuangkan bagaimana agar Nilai - nilai Islam secara universal bisa terserap dan mewarnai dalam setiap sendi kehidupan bangsa ini tanpa harus menggunakan bungkus Syariah.
Husein Umar pernah bertanya kepada M.Hatta yang juga terkenal dengan penganut filosofi garamnya “Bapak berbicara mengenai takwa dan kejujuran, bahkan mengenai Pancasila, tetapi tidak pernah bicara tentang Islam. Apakah sebabnya?”
Jawab Bung Hatta, “Perbedaan saya dengan Natsir ibarat segelas air di depan saya ini, yang tampaknya begitu bening dan transparan. Nah, cobalah teteskan setetes gincu dan kocok. Warnanya jelas berubah namun rasanya tidak berubah. Tetapi, coba masukkan setengah sendok garam dan kemudian kocok. Warnanya tidak akan berubah namun rasanya berubah. Natsir menganggap Islam seperti gincu, sementara saya menganggap Islam seperti garam. Tanamkan Islam di dalam hati pemuda-pemuda dan mereka akan membereskan seluruh negeri ini.”
”Pakailah filsafat garam, tak tampak tapi terasa. Janganlah pakai filsafat gincu, tampak tapi tak terasa.”
Inilah yang diinginkan Bung Hatta yaitu agar nilai-nilai Islam dapat menggarami kehidupan budaya bangsa, hingga akhlak mulia dan keadilan dapat ditegakkan secara nyata, bukan dalam format retorika politik yang tidak bertanggung jawab.Filsafat garam juga banyak diamini oleh tokoh-tokoh intelektual Islam lainnya, di tahun 2001 saat mencuat kembali keinginan sebagian umat Islam untuk mengusung “Piagam Jakarta” sebagai landasan negara, Tempo mewawancarai sejumlah tokoh Islam, antara lain M Amien Rais. Pada Tempo edisi tersebut Amien Rais mengatakan, “Jika politik bendera atau gincu yang dipegang, akan tampak berkibar-kibar dan menyala-nyala. Tapi hal itu akan menimbulkan reaksi dari kelompok lain. Sebaliknya jika politik garam yang dipegang, itu tak akan menyala atau berkibar-kibar. Cuma rasa gurih dan asinnya langsung dirasakan masyarakat.”.

Wal hasil bahwa para Ulama NU maupun Muhammadiyyah lebih mengutamakan membangun bangsa tanpa slogan Syariah, namun bukan berarti menolak Syariah. Ulama NU dan Muhammadiyyah lebih memprioritaskan syariah Islam yang besifat subtantif, yakni berlakunya nilai - nilai Islam universal seperti keadilan, persaudaraan, saling tolong menolong, kesetaraan, musyawarah, kesejahteraan dll dalam kehidupan anak bangsa, dan bukan dalam bentuknya yang legal formal.
Wallohu A'lam

sumber: https://www.facebook.com/GenerasiMudaNu/posts/450619278425103:0

Senin, 02 Maret 2015

Ruang menikmati hidup


kayanya nyaman betul lah, kalau kesampaian punya ruangan macam ni... 

kecil sih, namun rasanya nih ruangan itu secara filosofis inyong banget :) 

Menikahlah, jangan pernah tunggu SEMPURNA


Anda masih lajang dan belum menikah? Anda merasa kesulitan menemukan calon pendamping hidup Anda? Sudah sekian lama Anda berusaha mendapatkan calon jodoh sesuai kriteria, namun belum juga menemukannya? Saran saya: sesuaikan kriteria Anda. Kesulitan itu terjadi, mungkin karena Anda berharap hadirnya calon pasangan hidup yang sempurna, tanpa cacat, sesuai dengan harapan ideal Anda.

Berikut beberapa tips bagi Anda yang tengah mencari calon jodoh atau yang tengah berproses menuju pernikahan.

1. Berusaha Mendapatkan Jodoh Terbaik
Tentu saja Anda wajib berusaha untuk mendapatkan jodoh yang terbaik bagi dunia dan akhirat Anda. Tidak boleh sembarangan dalam memilih jodoh, karena menikah adalah untuk selamanya. Tidak untuk waktu yang terbatas. Maka pilih calon jodoh dengan kriteria utama kebaikan agama atau akhlak, bukan semata-mata soal kecantikan, ketampanan, kekayaan, ataupun status sosial.

2. Segera Ambil Keputusan
Menikah adalah bab mengambil keputusan, setelah Anda melakukan proses pencarian. Jangan berharap mendapatkan seseorang yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah. Tidak ada manusia sempurna, selalu ada kekurangannya. Jika Anda melihat gadis cantik, di tempat lain juga ada gadis yang lebih cantik. Jika Anda tertarik pemuda tampan, di tempat lain juga ada pemuda yang lebih tampan.
Lakukan musyawarah dengan orang-orang salih tentang pilihan Anda, kemudian lakukan pula istikharah. Ambil kemantapan, dan segera ambil keputusan.

3. Pasangan Hidup Adalah Sahabat
Anda tidak memerlukan orang yang sempurna untuk menjadi pasangan hidup Anda. Yang Anda perlukan hanyalah seseorang yang bersedia menemani Anda, mengerti diri Anda, bisa menerima kondisi Anda, mau menjadi sahabat Anda dalam suka dan duka, mau melewati hidup bersama dalam segala keadaannya. Anda tidak memerlukan seseorang yang sempurna untuk menjadi suami atau istri, karena memang tidak ada lelaki sempurna, tidak ada perempuan sempurna.

4. Terima Kekurangannya
Siapa pun yang Anda pilih untuk menjadi pendamping hidup, ia selalu memiliki kekurangan. Sebagaimana Anda pun memiliki kekurangan. Maka jangan pernah berharap kesempurnaan dari manusia. Setelah melakukan usaha memilih calon jodoh terbaik, kemudian sudah anda ambil keputusan untuk menikah dengannya, maka terimalah ia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Jangan menyesal menikah dengannya, ketika kelak Anda menemukan sisi kekurangan yang belum Anda lihat sekarang.

5. Proses Menjadi Lebih Baik
Yang Anda perlukan adalah kesediaan untuk berproses bersama pasangan untuk menjadi diri yang lebih baik. Dari waktu ke waktu, Anda selalu mengusahakan perbaikan, demikian pula pasangan Anda. Seseorang bisa saja memiliki masa lalu yang tidak baik, namun toh itu sudah berlalu. Yang paling penting adalah menoreh sejarah baru yang lebih baik pada masa sekarang dan yang akan datang.

6. Optimis Menghadapi Masa Depan
Setelah menikah, fokuslah menata hidup Anda di masa kini dan masa mendatang. Jangan terbelenggu oleh masa lalu. Masa depan Anda masih panjang membentang, lakukan berbagai usaha untuk mendapatkan kehidupan yang baik, kehidupan keluarga yang berkah, kehidupan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Raihlah surga dunia dan surga akhirat bersama pasangan Anda.

7. Bersama Menghadapi Permasalahan
Dalam kehidupan berumah tangga, pasti akan dijumpai konflik, pertengkaran, permasalahan dan tantangan kehidupan. Jangan takut dan khawatir dengan berbagai persoalan dan tantangan kehidupan. Tersenyumlah menghadapi hari-hari berat yang akan Anda lalui. Yang paling penting, Anda selalu bergandengan tangan bersama pasangan, melewati badai bersama-sama, menghadapi ganasnya tantangan kehidupan bersama-sama.

8. Kuatkan Ikatan dengan Tuhan
Sebagai insan beriman, Anda telah memutuskan untuk menikah dengan seseorang yang mencintai Anda karena Allah. Bisa menemani Anda dalam kehidupan berumah tangga karena Allah. Bisa membahagiakan Anda karena Allah. Maka, kuatkan ikatan keluarga Anda dengan Allah. Jangan pernah terlepas dari ikatan dengan-Nya. Karena hanya Ia yang akan bisa menyelamatkan Anda, hanya Ia yang akan bisa memberi pertolongan kepada Anda.

9. Nikmati Kebahagiaan Anda
Kehidupan berumah tangga pasti ada masa-masa pahit dan getirnya, pasti menghadapi ketegangannya. Bersabarlah dengan itu semua. Karena hidup berumah tangga memang memiliki aneka rasa. Kadang manis, kadang pahit, kadang getir, kadang menegangkan, kadang menyenangkan. Semua pasti akan Anda hadapi dan Anda alami. Nikmati saja semua rasanya, Anda akan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya bila mampu menikmati aneka rasa hidup berumah tangga.

10. Berikan Kontribusi Kebaikan
Hidup kita bukan hanya untuk diri kita, namun kita dituntut untuk peduli dan berbagi dengan sesama. Berikan kontribusi kebaikan bagi masyarakat sekitar, berikan kebahagiaan bagi keluarga besar, berikan kebaikan bagi bangsa dan negara. Hidup kita akan sangat pendek jika hanya berpikir untuk diri sendiri, namun akan sangat panjang apabila mau peduli dan berbagi. Kebahagiaan hakiki itu dalam memberi, bukan dalam menerima pemberian.

kasih kekasih

kekasih, relalah aku hanya menjadi dinginnya hujan
asalkan dikau bisa merasakan hangatnya selimutmu

kekasih, tak apalah aku hanya jadi rintik hujan yang terpanang sekilas oleh bening matamu
asalkan kau mampu merinduku di saat yang lain hanya merasakan basah

kekasih, aku hanyalah genangan air di telapak sepatumu
tak sempat kau rasakan, tapi tak mengapa asal bisa selalu bersamamu
walau hanya sampai masa kau melepas sepatumu

kekasih, haruskah aku juga membasahi sekujur lekuk tubuhmu
hanya untuk mendapat perhatian dari kerutan di ujung lentik jemarimu

kekasih, aku tak pernah tahu kapan tuhan mengizinkanku untuk sempurna merasuki tubuhmu
mungkin mendung hari ini atau banjir esok hari
tapi saat itulah aku merasa sempurna menjadi tetesan air

Minggu, 01 Maret 2015

Naila



              Nama Naila akhir-akhir seperti sedang menjadi trending topic di mana-mana, di sekitarku saja dengan sangat mudah kutemui perempuan bernama naila. mulai dari adik ragilku yang bernama Naila Salsabilla, kemudian kakak sepupu perempuanku Naila Zulfa, ada lagi adik sepupu beda kakek yaitu anaknya pak lik ku yang punya nama Naila Mulia Ansani ( Ansani = anaknya asrolani ). saat aku bekerja di kaltim pun aku bertemu dengan naila lainnya dia Naila Asyifa Harahap anak teman kerja ku yang kebetulan rumahnya bersebelahan. eh ternyata anak Murrabi ku pun bernama Naila pula, tapi aku ga mau nanya lengkapnya ntar di kira mau macem-macem :D. oiya ada satu nama Naila lagi yang cukup akrab denganku yaitu Naila Ath-thamim, wanita keturunan arab-indo yang kenal di FB dan sering ngajak debat pas pemilu kemaren. Sebenarnya trend nama Naila itu sudah lama tapi mungkin karena kebetulan nama tokoh peran utama wanita di sinetron GGS ( Ganteng Ganteng SeringGalau ) itu bernama Naila jadi seakan-akan nama itu baru muncul akhir-akhir ini. nama naila yang paling terkenal adalah Nailah binti Al Qurafashah atau Nailah binti Al Farafishah Al Kalbiyah, seorang gadis cantik dari negeri Syam. 


      Sang gadis belia yang cantik jelita tapi ikhlas menikahi seorang lelaki yang lebih pantas jadi kakeknya. bahkan sampai meninggalnya sang lelaki tersebut pun dia ogah mencari pengganti. lelaki tersebut adalah sang amirul mukminin utsman bin affan. dia menikahi utsman bukan karena faktor ketampanan utsman tapi karena faktor ke agamaan sang khilafah. yah begitulah Naila dengan bermacam-macam orangnya dan sifatnya. tujuan saya menulis di sini bukan mau membahas nama naila untuk di buat skripsi :)... akan tetapi mau sedikit membahas mba wedok ku si Naila Zulfa. 


    Wanita yang satu ini adalah antitesa kepribadianku, dia seumuran denganku ( lebih muda setahun sih tapi karena doi terlalu pinter jadi masuk sd nya barengan ) sekilas tentang Naila, dia anak yang supel dan ramah. bisa di bilang sangat cantik, kalo di bandingin sama artis dia mirip cornelia agatha di sinetron si doel jaman dulu. berperawakan semampai ( semeter pun tak sampai :D ) banyak kawan, pinter, baik hati dan rajin menabung ( makanya sekarang kerja di BANK) dan dia lah sang menara gading manusia tersukses bagi ibuku, walaupun bukan anak kandung tapi ibu ku sangat mengistimewakan dia. jadi apa-apa yang di lakukan mba ku itu adalah bagus, walau salah ya namanya juga anak-anak. sebaliknya, segala tindakanku kalau ga niru si Naila adalah salah dan zero toleransi. sejak zaman SD sampai SMA kami selalu bersama, dari main boneka bareng sampai mabok les kimia. dia memang sangat jago di bidang hitung -menghitung dari jaman kelas 1 sd. nilainya selalu di atasku, lah saya selalu kebalikannya. walau begitu, saya lebih unggul di bidang pelajaran non hitung. jadi setiap ada pembagian raport, selalu ada persaingan sengit antara kami berdua. kalau di jaman SD saya selalu di atas doi dalam hal ranking ( karena SD cuma matematik yang ada hitung-hitungannya ), tapi mulai SMP sampai SMA saya sangat tertinggal jauh ( karena baik mapel IPA ataupun IPS ada hitung-hitungannya ). mulai SMA ini lah saya jadi pengekor doi, dimana doi les saya di suruh ikut les juga. saat doi dengan gampangnya masuk IPA, saya masuk IPA karena nilai mapel Akuntansi saya selalu 0 jadi guru-guru bersepakat membuang saya ke IPA :p.... 


    Pada saat akan memasuki jenjang bangku perkuliahan angin keberuntungan seakan-akan menjauhinya. dengan modal nilai rata-rata yang tinggi seharusnya masuk UGM pun hanyalah sambil merem, akan tetapi takdir tidak mengikuti logika manusia, mulai dari mengikuti PMDK pendidikan matematika UNNES dia Gagal, UM pendidikan matematika UNS Solo dia Gagal, UMPTN pendidikan bahasa inggris UNY jogja dia juga Gagal, kemudian UM2 Manajemen UNSOED dia pun masih Gagal, karena univ negeri sudah tutup semua pasca pengumuman UM UNSOED dengan pasrah akhirnya dia masuk STAIN PWT jurusan syariah. memang sudah takdirnya mungkin biar dia jadi anak sholehah di STAIN. karena sudah terlanjur pinter hanya dengan waktu 3,5 tahunan dia sudah sarjana di saat saya belum memulai tugas akhir sedikit pun. sambil menguap, tiba-tiba dia sudah keterima aja gitu kerja di BANK syariah swasta di bandung. di saat saya masih harus blusukan keluar masuk hutan kalimantan dia sudah naik pangkat dengan mudahnya. demikianlah sekilas resensi saya tentang mba perempuanku. Alhamdulillah, kemaren sore di saat hujan deras membasahi dusun karanganyar tercinta. ada seorang pangeran tamvaaan dengan serombongan keluarga besar dari pegunungan slamet ( Guci, TeGkGaal ) memberanikan diri menyunting mbak ku wedok. saya tersalip lagi, di situ kadang saya merasa sedih :(((... 


  Teman main kecilku itu sebentar lagi akan sempurna agamanya, insya Allah sang pangerannya Ganteng, walau tak setamvaaan Galang di sinetron GGS tapi dia terlihat serasi dengan mbakku dan yang terpenting dia Sholeh dan bertanggung jawab. demikianlah takdir, kuliah di Purwokerto kerja di bandung dan ketemu jodohnya di TeGkGaal tak pernah ada yang tahu... tapi akan selalu indah kalau kita bersyukur... selamat ya mba Nay... semoga mba nay ga nemu ini artikel dan ga baca juga...

Jumat, 27 Februari 2015

Nikah dengan cara ELEGAN


Jadikan kisah pertemuan dengan jodoh kita itu sebagai kisah yang elegan. Jangan sampai di awal pertemuan sudah dikotori dengan hubungan-hubungan yang selama ini dipercaya banyak orang sebagai hubungan yang sah-sah saja, padahal tidak diperkenankan oleh agama. Pacaran salah satunya.” 



Nikah Muda Siapa Takut - Ahmad Rifa’i Rif’an

Jumat, 20 Februari 2015

PERSIAPAN DIRI MENJELANG PERNIKAHAN (1)

Persiapan melakukan apapun adalah awal dari keberhasilan. Apalagi untuk sebuah pernikahan, moment besar dalam hidup seorang laki-laki dan perempuan.
Moment besar laki-laki karena ia akan bertambah amanah dari tanggung jawab atas dirinya sendiri menjadi tanggung jawab terhadap sebuah keluarga.
Bagi seorang perempuan momen besar ini lebih luar biasa lagi. Ia akan mempersilakan seorang laki-laki yang tadinya bukan siapa-siapa, untuk memimpin dirinya. Kerelaan yang sungguh luar biasa.
Untuk sebuah peristiwa bersejarah itulah laki-laki dan perempuan muslim hendaklah memiliki kesiapan diri secara moral spiritual, konsepsional, fisik, material dan sosial.
A. Persiapan Moral dan Spiritual
Kesiapan secara spiritual ditandai oleh mantapnya niat dan langkah menuju kehidupan rumah tangga. Tidak ada rasa gamang atau keraguan tatkala memutuskan untuk menikah, dengan segala konsekuensi atau resiko yang akan dihadapi pasca pernikahan.
Bagi seorang laki-laki, kesiapan diri secara spiritual adalah tentang menjadi seorang qowwam (pemimpin) dalam rumah tangga, untuk berfungsi sebagai seorang ayah bagi anak-anak yang akan lahir nantinya dari pernikahan. Kesiapan dalam diri untuk menanggung segala beban-beban yang disebabkan oleh posisi laki-laki sebagai seorang suami dan ayah.
Bagi seorang perempuan, kesiapan diri secara spiritual adalah tentang kesiapan untuk membuka ruang baru bagi intervensi seorang mitra yang bernama suami. Kesiapan untuk mengurangi sebagian otoritas atas dirinya sendiri lantaran dalam rumah tangga, prinsip musyawarah adalah hal yang harus diutamakan, dan sebagai istri mempunyai kewajiban untuk taat pada suami selama perintah suami adalah hal yang baik, dan juga kesiapan untuk hamil, melahirkan dan menyusui dan menanggung beban-beban baru yang muncul akibat hadirnya anak.
Sedangkan secara moral, Allah menerangkan di surat An-Nur ayat 26 
“Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita yang keji (pula). Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula.😇😇
Maka, jika kita ingin mempunyai pasangan yang baik dan berakhlak baik, kita sendiri harus mempersiapkan sejak dini untuk mempunyai akhlak yang baik. Moral tidak bisa dipersiapkan secara mendadak, namun merupakan buah dari pembelajaran dan penjagaan diri sejak masih belia.
Adapun cara mempersiapkan sisi moralitas untuk para calon pengantin, adalah dengan meningkatkan pengetahuan agama, berusaha memperbaiki diri secara terus menerus, menjadikan diri cinta beramal shalih, dan menjauhi tempat-tempat yang mendatangkan dampak negatif bagi diri sendiri dan senantiasa bergabung dalam lingkungan orang-orang yang baik.
Sedangan persiapan spiritual bisa dilakukan dengan menjaga ibadah-ibadah wajib, senantiasa meningkatkan amalan-amalan sunnah, memperbanyak istighfar dan muhasabah serta berdoa kepada Allah agar mendapat kekuatan dan kemantapan hati dalam meniti hidup sehingga tidak melenceng dari ajaran islam. (rm)
Bersambung pekan depan…
Materi disarikan dari tulisan Ust. Cahyadi Takariyawan.
🌸 KULIAH SUPERMOM WANNABE 🌸
Edisi #JumahSakinah, 20 Februari 2015

🍄 Follow Us 🍄
🌷 Tumblr: supermomwannabee.tumblr.com
🌼 Twitter: @supermom_w
🍁 Fanpage FB: Supermom Wannabe

Di jalan apa kita menikah?

Ini bukan pertanyaan basa-basi. Pertanyaan ini, penting untuk dijawab.
Dijalan apa kita menikah? Ada jalan instinktif. Pilihan jalan ini bersifat tradisional. Secara intuitif, manusia memerlukan teman dan pasangan hidup. Jalan ini menghantarkan setiap orang, apapun agama dan ideologinya untuk bisa saling mencintai dan menyayangi pasangan hidupnya. Menumpahkan syahwat secara bertanggung jawab kepada pasangannya. Namun, jika kita mencari pasangan hidup semata-mata dengan orientasi penyaluran kebutuhan biologis, pilihan pasangan pun sebatas pada tujuan itu, yaitu harus bisa memuaskan keperluan syahwatnya. Jalan ini merupakan pilihan masyarakat yang awam akan agama dan jauh dari sentuhan spiritualitas.
Dijalan apa kita menikah? Ada ideologi serba materi. Kekayaan, kemegahan, serba punya. Hidup layaknya borjuis yang segala hal diukur dari aspek materi. Dampaknya ketika menikah, tolok ukurnya pun materi. Memilih suami atau istri, ditinjau dari sisi material. Kekayaan, kecantikan, ketampanan, bentuk tubuh, berat badan, warna kulit, dan sebagainya. Sebuah orientasi sempit yang menghantarkan manusia kepada kerugian. Benarlah kata-kata bijak yang mengingatkan kita akan masalah ini. “Barangsiapa orientas dan cita-citanya hanyalah sebatas pada apa yang masuk kedalam perutnya, maka nilai kemanusiaannya tak lebih dari apa yang keluar dari perutnya.” Jika jalan ini adalah pilihan kita, kerugian sudah pasti merupakan akibatnya. Bukankah materi mempunyai sifat dasar tidak pernah bisa memuaskan??
Dijalan apa kita menikah? Ada jalan setan yang membentang luas disebelah kiri dan kanan kita, mengajak kita melewatinya, dengan berbagai janji-janji keindahan dan kenikmatan. Jalan setan yang menawarkan kebebasan melampiaskan hawa nafsu. Ketika manusia mulai dikuasai setan, yang bergerak dalam hati dan pikirannya hanyalah kekuasaan setan. Segala hal yang dilarang Allah tampak demikian indah dan menyenangkan. Lalu, bagaimana mungkin kita akan memilih menikah di jalan setan, padahal jelas-jelas setan akan menipu dan menyesatkan?
Dijalan apa kita menikah? Nun jauh disana, ada kehidupan yang menolak kemewahan. Adalah serba ruhani, dimana ketidakpunyaan menjadi dasar pilihan. Jalan ini amat menistakan kegelimangan harta material, menolak hidup bergelimang harta, tubuh gemuk, malas ibadah dan syahwat dunia. Akan tetapi, mereka melawan dengan ekstrim sisi yang lain. Padahal sesungguhnya, islam tidak mengharamkan materi selama diperoleh dengan cara yang benar. Sekalipun islam tidak menghendaki umatnya berorientasi serba materi, akan tetapi islam juga menolak jalan serbaruhani yang meniadakan kepentingan material.
Dijalan apa kita menikah? Terbentang pula dengan lurus, jalan para Nabi. Jalan orang-orang sholih yang kini telah bercengkerama ditaman syurga. Inilah harusnya pilihan jalan kita. Jalan menuju kebahagiaan dan kepastian akhir. Jalan yang dipilihkan Allah untuk Nabi dan orang-orang yang mengikutinya. Jalan yang menghantarkan Nabi saw menikahi istri-istrinya. Jalan yang membuat Ummu Sulaim menerima pinangan Abu Thalhah, jalan yang menyebabkan Ali bertemu Fatimah.
Dijalan ini, orang-orang sholih membina rumah tangga. Jalan ini menawarkan orientasi bahwa pernikahan adalah ibadah. Dijalan ini, kecenderungan ruhiyah amat mendapat perhatian, akan tetapi tidak mengabaikan sisi-sisi materi. Di jalan ini, setan terkalahkan oleh orientasi rabbani, hingga menuntun setiap proses dari awal sampai akhir, senantiasa memiliki kontribusi terhadap kebaikan. Sejak dari persiapan diri, memilih jodoh, peminangan, akad nikah hingga walimah dan hidup satu rumah, tidak ada yang dilakukan kecuali dalam kerangka kebaikan dan ibadah.
Lalu, di jalan apa kita menikah?
Sumber: Buku Dijalan Dakwah Aku Menikah, Ust. Cahyadi Takariyawan.
*Follow Us*
- Tumblr: supermomwannabee(dot)tumblr(dot)com
- Twitter: @supermom_w
- Fanpage FB: Supermom Wannabe

Kamis, 19 Februari 2015

hai teman, apa kabar yang sebenarnya darimu?

             
              hai teman seperjuanganku, tersenyumlah barang cuma sebentar dan walaupun sedikit pahit. saya tahu kok, kamu sedang sibuk bergelut dengan diri sendiri bukan dengan orang lain dan bukan pula dengan tumpukan tugas di depanmu. selaku teman yang terbatas dalam menjadi teman yang baik bagi kamu saya cuma mau sedikit berbagi rasa denganmu. kalau merasa menggurui, ya kamu sudah tahu sifatku kan? kita berteman kan ga cuma baru sehari atau dua hari. saya sudah kenal kamu dari mulai jadi bintang ospek sampai kena sidak MR pas main PS, kamu juga sudah kenal diriku sejak cupunya aku sampai mulai gemuknya badanku, bahkan sampai #gagalMoveOn nya diriku. 

              hai teman suka-dukaku, hanya karena kamu belum bisa mencapai sesuatu yang sudah orang lain mencapainya, janganlah membuatmu merasa kalah. segala sesuatu sudah ada masanya, kadarnya dan tingkatannya sendiri, tak usah risau kalau belum dapat atau jangan terlalu menyesal jika sudah terlewat. bersemangatlah kawan, karena ujian untuk dirimu itu sudah sesuai dosisnya dan hanya dirimu yang bisa melewatinya, sekarang tinggal kamu pilih, melewatinya dengan senyuman atau tangisan. 

               hai kawan curhatku, mari jadikan masa depanmu penuh dengan rasa bangga akan lelah hari ini bukan penyesalan atas ketakutan berbuat bertindak, bukan rasa malu karena selalu meragu. saya selalu yakin kamu bisa menyelesaikan ini dengan mudah dan cantik seperti biasanya. ingatlah betapa bahagianya dirimu beberapa tahun yang lalu, ketika si pemuda itu memberanikan diri jauh dari sanak keluarga merantau ke kota kecil yang mungkin belum banyak di ketahui semua orang, untuk memulai apa yang seharusnya kamu selesaikan hari ini. 

             hai kawan perjuanganku, tak ada yang pernah tau dimana kedepannya kita di tempatkan oleh Allah dalam mengeruk jatah rizki kita, ibarat menanam singkong, asal tancap pun jadi. tapi memotong batangnya dan mengatur jarak tanamnya adalah ikhtiar kita untuk memperoleh hasil maksimal. begitu pula dengan rezeki, cuma tidur-tiduran pun pasti akan mendapatkannya, tapi dengan kelulusanmu adalah bentuk ikhtiar antum dan bentuk syukur antum pada yang maha pencipta. 

             hai teman susah-bahagiaku, jika kamu takut apa yang kamu ikhtiarkan akan buntu dan gagal  kedepannya, ingatlah betapa semangatnya dirimu dalam berproses selama ini. bukannya kalau makan kita lebih menikmati saat kita mengunyah makanannya bukan saat kita merasakan kenyangnya. keep moving forward, sekali lagi jangalah surutnya satu aliran sungai membuatmu lupa akan kerasnya deburan ombak di lautan.

           tetaplah bersemangat kawan, se semangat waktu kamu berjuang habis-habisan menyiapkan DM 2 tahun kemarin, teruslah berusaha seperti saat akhir bulan kiriman belum datang hehehe... maaf sudah pernah egois beberapa bulan ini melupakanmu, maaf juga tak bisa banyak membantu, maaf juga jika tulisan ini justru memparah pertarunganmu melawan dirimu,

salam hangat,




zaharudin
teman bergelayutan pasang spanduk di waktu dini hari :)


Rabu, 18 Februari 2015

doa minta rezeki halal

Doa ini dibaca ya. Supaya dipermudah dlm mencari rezeki yang halal. Jadi bisa menghalalkan dia




اَللَّهُمَّ اكْفِنِيْ بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Ya Allah! Cukupilah aku dengan rezeki-Mu yang halal (hingga aku terhindar) dari yang haram. Perkayalah aku dengan karunia-Mu (hingga aku tidak minta) kepada selain-Mu.” (HR. At-Tirmidzi 5/560, dan lihat kitab Shahihut Tirmidzi 3/180)

Selasa, 17 Februari 2015

kekhawatiran Ali bin Abi Thalib R.A



Aku khawatir terhadap suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan. Keyakinan hanya tinggal pemikiran, tak membekas dalam perbuatan. Banyak orang baik, tapi tak berakal. Banyak orang berakal, tapi tak beriman. Ada lidah fasih, tapi berhati lalai. Ada yang khusyuk namun sibuk dalam kesendirian. Ada ahli ibadah, namun amalan bid’ah dan mewarisi kesombongan iblis. Ada ahli maksiat, rendah hati bagaikan sufi. Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat, ada yang banyak menangis karena kufur nikmat. Ada yang murah tersenyum, tapi hatinya mengumpat.

Ada yang berhati tulus, tapi wajahnya cemberut. Ada yang berlisan bijak, tapi tak memberi teladan. Ada pezina yang tampil jadi figur. Ada orang punya ilmu tapi tak paham, Ada yang paham tapi tak menjalankan. Ada yang pintar tapi membodohi. Ada yang bodoh tapi tak tahu diri. Ada orang beragama, tapi tak berakhlaq, ada yang berakhlaq tapi tak ber-Tuhan.

— Ali bin Abi Thalib

sesore yang menghapus 7 bulan

     
Serintik hujan tetiba membasahi dedaunan yang mulai mengering karena lama tak jumpa air, sudah 5 hari tanpa hujan di pekaranganku. renyahnya daun yang seakan-akan siap terbakar kapan saja, hanya dengan seguyuran air menjadi lemas bagai mendoan hangat yang baru di angkat. -- ahh sok puitis... ya!! ini serupa dengan gambaran perasaanku sore itu, bersamaan dengan tenggelamnya matahari tanggal 16 februari 2015 ada sesuatu yang membasahi harapan dari tanggal 11 agustus 2014, kemarau 7 bulan terbasahi dengan gerimis sekejap. rasanya sungguh membuat lemas, seakan-akan tulang di tubuh ini rontok hanya dalam hitungan detik. seperti mendapat undangan dari kamu untuk kedua kalinya, iya kamuu.... 

+62812200801xx PTP. Nusantara VIII PN8-1054 ZAHARUDIN Diberitahukan bahwa saudara dinyatakan Tidak Lulus seleksi. terimakasih atas partisipasi anda. 

hape bergetar dua kali tepat pada pukul 17.26.18, mengabarkan bahwa PTPN VIII tidak berhak menerima pengabdian saya, Alamakjaaang... mau gimana lagi, mereka sudah menutup kesempatan punya sinder terbaik ini, ya sudahlah. mau di katakan apa lagi, ini sudah catatatan takdir yang mengering di lauhil mahfudz sana, khusnudzon saya adalah Allah faham saya nda boleh kerja di kebun lagi mbok saya berbuat yang macem-macem lagi dan Allah sudah menyiapkan lahan garapan lain yang 10 kali lipat lebih baik di depan sana. di mana? ya, di dinginnya sepertiga malam dan di hangatnya hamparan sajadah. satu kata bijak yang saya ingat adalah janganlah keringnya aliran sungai membuat kita lupa akan derasnya deburan ombak di laut. 


sip, kapal plat merah sudah terbakar, tinggal nyari di antara dua pilihan mencari kapal lain atau mulai membuat kapal sendiri walau kecil tapi sayalah kaptennya, maka dengan ini Insya Allah 3 hari ke depan saya berpuasa nadzar untuk di beri ilham oleh Allah bagaimana baiknya saya ke depan. kalau untuk kapal baru sudah ada beberapa tawaran lagi, tapi inginnya hati membuat kapal sendiri. semoga Allah mengilhami saya apa-apa yang perlu saya lakukan untuk bisa mengeruk jatah rezeki saya dan menjadi pipa rezeki bagi orang lain di sekitar saya... 

saya tahu artikel ini ga ada yang baca, tapi kalau ada yang kebetulan baca saya mohon bantuan doa nya juga yaaa... 


Sabtu, 14 Februari 2015

#VangantineDay

          Poster ini sekilas mirip poster partai pemenang pemilu 2014, seperti asli nya jargon HEBAT membuat mereka lebih eyecatching... mereka di sini adalah Nikah dan PDI P nya. di era #VangantineDay sedang jadi trending topic macam sekarang, memang iklan seperti ini perlu di share kan  secara gencar oleh aktivis keIslaman pada socmed mereka. tujuannya sangat jelas yaitu membendung budaya paganisme berpenumpang gelap kapitalisasi cinta. -- sedikit mirip viky 29 my age. valentine yang awalnya sudah jauh dari islam di tambah lagi penyedap materialisme maka tambah tidak sedaap rasanya kalau di santap para pemuda muslim. makanya para alim ulama ( yang bukan liberal lho ) tegas dan jelas tidak berkompromi dalam hal ini. 

sebenarnya hari macam ini kan cuma di gunakan buat promo lapak para juragan coklat, juragan kondom, juragan musik biar produknya pada laku, cuman ga polostomo langsung teriak-teriak kaya di pasar biar pada beli. mereka sewa para calo ( agen) untuk meramaikan perayaan ini, yang secara halus di sisipi jualan mereka. lhah wong pada jaman awal-mulanya valentinan ga ada tuh kondom, coklat apalagi dvd, maka jelas banget kan tujuan di populerkannya valentinan, yaitu DUIT. 

daripada valentinan ya mending vangantinan, tapi bagi yang sudah mampu. kalau belum mampu ya lebih baik di rutinkan puasa, itung-itung sekalian diet hehehe... kalo bagi saya keduanya masih terlalu melangit, yang satu sumber dosa dan yang satunya belum ada sumber dana :). kalo belum mampu menikah ya minimal jangan gangguin atau PHP in anak orang dulu, mesakke mbok mbesuk anak keturunan kita di perlakukan begitu juga... perbaiki dulu sembari nyari dan ngumpulin pitis buat mboyong anak pak haji, walau dalam rukun nikah ga ada syarat kudu punya pekerjaan tapi ya kita juga harus meyakinkan pak mertua bahwa anak yang akan kita boyong bisa hidup -- minimal sederahana-- tanpa bantuannya lagi. kalau saya sendiri sih, rencananya kalau beneran keterima jadi sinder di ptpn 8 jabar, insya Allah ga berselang lama dari itu mau ngirim proposal ke murrabi, ben ndang rabi :) 

Selasa, 03 Februari 2015

teman hari minggu


bahagia rasanya kalau di tipi liat muka-muka sosok mereka ketika hari minggu, tapi itu duluu... sekarang mah anak-anak pada goyang dumang di secetipi, goyang kucek-kucek di recetipi dan ngegosipin parat ampas di indosyiar

Senin, 12 Januari 2015

Paradoksal Abu Bakar dan Umar

Dari dulu saya sebenarnya bertanya-tanya, mengapa kisah hidup Abu Bakar jauh lebih sedikit yang kita temukan daripada kisah Umar?
Lalu, tiap membaca kisah mereka dari hadist, ada sensasi aneh dan unik yang muncul. Misalnya, saat kita membaca kisah Umar, beliau selalu tampil sebagai seorang yang kuat, tegas, dan cenderung keras.
Abu Bakar sebalknya, tidak menonjol dan tidak mau menonjol. Abu Bakar selalu meringkuk di pojokan dan tidak nyaman jika diminta tampil. Namun, saat ia tampil, jawaban dan tindakan-tindakannya membelalakkan mata.
Abu Bakar jelas adalah seorang phlegmatis murni. Jika ia tak harus muncul, ia takkan mau muncul. Ketika harus muncul, Abu Bakar pun bicara dengan kerendahan hati luar biasa. Kata-katanya singkat, tindak-tanduknya mencerminkan “siapa sih saya, bukan apa-apa”. Wajahnya merah saat dipuji. Ia tidak suka dipuji. Gambaran fisiknya pun makin menguatkan asumsi itu, “kurus, tinggi, berkulit putih, terlihat ringkih, agak bungkuk, berjenggot putih, dan pendiam”, begitu gambaran umum fisik Abu Bakar.
Abu Bakar beramal dalam diam, tapi amalnya luar biasa. Amalnya adalah yang terbaik. Hanya beberapa amal yang sempat Umar pergoki. Namun, saat Umar berhasil “menangkap basah”, ia hanya bisa kicep melihat kualitas amal Abu Bakar.
"Sungguh, engkau telah membuat kesulitan tiap pemimpin yang menggantikanmu, wahai Abu Bakar", keluh Umar. Umar memberikan pernyataan itu saat memergoki Abu Bakar tiap pagi datang ke rumah janda tua di pinggir Makkah. Abu Bakar memberishkan rumah janda tersebut dan memasakkan makanan untuknya. Ia mengurus janda itu tiap hari. Padahal, saat itu Abu Bakar adalah khalifah.
Begitu pula saat Nabi bertanya kala bincang setelah subuh. Saat ditanya siapa yang hari ini sudah bersedekah, menengok orang sakit, dan bertakziyah, tak ada satupun sahabat yang sudah melakukannya kecuali Abu Bakar. Ia mengangkat tangan, mengaku dalam malu, sementara sahabat lain terbengong.
Abu Bakar, jangan main-main. Masih jam 5 pagi dan Anda sudah bertakziyah, bersedekah, dan menjenguk orang sakit? Seperti apa Anda menjalani hari-hari Anda? Jam berapa Anda bangun? Dan Anda malu-malu dalam mengaku kepada nabi? Duh, apalah kami dibandingkan Anda.
Dengan karakter Abu Bakar yang seperti itu, wajar saja tak banyak kisah yang kita dapatkan.
Umar, dalam berbagai segi, adalah kebalikan Abu Bakar. Umar adalah potret sejati dari karakter Koleris murni. Keras, tegas, raksasa, pemaksa, dan cenderung keras. Fisik Umar digambarkan sebagai, “tinggi-besar, berotot, botak, keras, kasar, pandangan matanya tajam, garang - semua orang takut padanya”.
Kata-kata khas yang ia pakai kadang mirip preman pasar, “penggal saja!”, “aku akan membunuhmu!”, “kita harus melawan mereka!”, “wahai Rasululah, kenapa kita harus takut kepada Quraisy?”
Kenyataannya, Umar memang mantan preman pasar Ukazh. Sebelum masuk Islam, ia adalah tukang berkelahi dan jagoan Ukazh.
Sikapnya yang berani mengambil resiko memang luar biasa. Dan seperti karakter Koleris lainnya, kita melihat seorang yang menonjol. Koleris banyak sekali mengambil inisiatif untuk perubahan - dan bagi mereka, itu adalah sesuatu yang biasa mereka lakukan. Saat kau menginginkan ketenangan, panggil phlegmatis. Namun, saat kau merasa buntu, panggil Koleris. Koleris akan memecahkan kebuntuan-kebuntuanmu dengan cepat.
Dan itu pula yang dilakukan Umar. Saat jamaah muslim ketakutan di Makkah, Umar mengajak mereka berthawaf dan sholat di Ka’bah. Saat muslim yang lain hijrah diam-diam dalam malam, cuma Umar seorang yang menenteng pedang di bahunya sambil berteriak menantang di siang bolong, “Bagi yang mau menghadang aku untuk hijrah, silahkan!” Tak ada satupun orang yang menghadang Umar.
Makanya, dengan karakter Umar yang seperti itu, kisah tentang Umar membanjiri sirah nabawiyah Islam. Tidak heran.
Namun, ada satu hal yang unik, dan ini membuat kekaguman saya bertambah-tambah. Saat memilih pemimpin di Tsaqifah, mereka tidak memilih pemimpin yang menonjol. Mereka memilih pemimpin yang terbaik.
Abad 21 adalah abad ekstrovert. Saya yakin, andaikata ada pemilihan pemimpin antara Abu Bakar dan Umar tahun 2015 ini, Umar lah yang akan menang. Abad ini, orang yang lebih menonjol, lebih banyak berbicara, lebih banyak mengambil inisiatif, dia lah yang dipandang lebih baik. Setidaknya begitulah kata Susan Cain dalam bukunya Quiet. Pernahkah kamu berada dalam ruangan dan terpesona oleh orang yang banyak bicara dan aktif memberi ide, tapi kemudian kecewa karena ia tak bisa memimpin tim dan memberi hasil yang diharapkan?
Padahal, kepemimpinan bukan diukur dari seberapa baik ia bicara di depan publik. Ia bukan diukur dari keberaniannya untuk berorasi di depan orang-orang. Gandhi bukanlah orang yang jago pidato. King George X dari Inggris pun gagap saat coba bicara di depan rakyatnya (dan kemudian dibuatlah film King’s Speech untuk memotret fenomena itu).
Kepemimpinan, menurut saya, adalah lebih pada kemampuan membawa orang yang dipimpin untuk sampai ke tujuan. Jika demi sampai ke tujuan si pemimpin harus bagus bicara di depan publik ya bisa jadi. Tapi bukan itu fokusnya. 
Makanya, ketika Utsman menjadi khalifah, ia jarang sekali pidato. Dan sekalinya pidato, ia cuma berpidato begini, “Sesungguhnya pemimpin yang terbaik adalah yang paling banyak kerjanya, bukan yang paling banyak bicaranya”. Lalu ia turun dari mimbar, meninggalkan jamaah muslimin yang bengong.
Peristiwa Tsaqifah - pemilihan pemimpin setelah wafatnya Nabi - tiba. Dari sinilah saya melihat cerminan karakter Abu Bakar dan Umar dengan sangat jelas dan kontras.
Abu Bakar dengan karakter phlegmatisnya benci tampil menonjol. Sebagai phlegmatis, Abu Bakar berpikir ia bukan apa-apa. Ia tak mau orang memandang dirinya. Kalau bisa, ia selalu ingin di pojokan saja.
Namun, hari ini berbeda. Situasi Tsaqifah sangat panas dan perlu keputusan. Walaupun Abu Bakar tak suka menjadi pusat perhatian, akhirnya ia maju dan memberikan usul. Ia meminta hadirin memilih antara Umar dan Abu Ubaidah sebagai pemimpin. Dalam kondisi biasa, kawan, seorang phlegmatis tak mau menonjol, tak mau memimpin. Namun, dalam kondisi terdesak dan kritis, saat ia melihat ia harus memimpin dan tak ada orang lain yang bisa, ia akan (terpaksa) tampil.
Dan di sinilah briliannya Umar. Ia tahu ia lebih menonjol dibanding Abu Bakar. Perawakannya lebih meyakinkan daripada Abu Bakar. FYI, menurut riset, orang dengan karakteristik tubuh tinggi besar dan kelihatan tegas lebih didambakan untuk menjadi pemimpin dibanding orang yang perawakannya kecil dan terlihat tidak tegas. Dan, tebak, kalau Umar memilih mengangkat diri menjadi pemimpin, takkan ada yang protes. Umar memang layak!
Tapi Umar menolak.
Ia tahu secara perawakan dan kasat mata, ia lah yang lebih cocok menjadi pemimpin. Tapi soal manusia terbaik, Abu Bakar lah orangnya. Saat itu adalah saat krisis, secara logika Koleris lah yang perlu mengambil alih. Tapi tidak, ia yang perawakannya “kurus dan ringkih” itulah yang dipilih sebagai pemimpin. Sang phlegmatis murni.
Selanjutnya adalah kisah tentang paradoksal. Abu Bakar yang dikenal pendiam dan tidak menonjol langsung tampil menjadi pemimpin yang luar biasa tegas, bahkan mengalahkan ketegasan Umar.
Saat Umar protes mengapa Abu Bakar memerangi kaum yang tidak membayar zakat, Abu Bakar balik menghardik Umar bahwa mereka memang harus diperangi. Saat Umar memprotes bahwa pasukan Usamah harus mundur, Abu Bakar menghardik Umar bahwa ia takkan menghentikan apa yang telah diperintahkan Rasulullah.
Ya, inti kepemimpinan adalah soal kemampuan membawa orang yang dipimpin demi mencapai tujuan. Dan Abu Bakar jelas orang yang paling memiliki kompeten di bidang itu. Maka, ketika dihadapkan sebuah tanggung jawab kepemimpinan, seorang phlegmatis akan mentransformasikan dirinya menjadi seorang -yang kadang- jauh berbeda. Seorang phlegmatis memang tak suka muncul, tapi ketika ia harus muncul, maka ia akan muncul.
Abu Bakar dan Umar. Kedua orang ini selalu saya pelajari kisah hidupnya dengan pendalaman yang jauh lebih mendalam dibanding kisah sahabat yang lain. Bagi saya, mereka adalah kisah persahabatan paradoks sekaligus unik luar biasa. Radiallahu Anhu (semoga Allah ridha kepada mereka)
Akhir kata, saya cuma bisa mengutip syair Imam Syafii untuk mengakhiri tulisan ini,
"Ya Allah, tempatkanlah aku bersama orang-orang saleh walaupun aku bukan termasuk bagian dari mereka"


 sumber