Jumat, 20 Februari 2015

Di jalan apa kita menikah?

Ini bukan pertanyaan basa-basi. Pertanyaan ini, penting untuk dijawab.
Dijalan apa kita menikah? Ada jalan instinktif. Pilihan jalan ini bersifat tradisional. Secara intuitif, manusia memerlukan teman dan pasangan hidup. Jalan ini menghantarkan setiap orang, apapun agama dan ideologinya untuk bisa saling mencintai dan menyayangi pasangan hidupnya. Menumpahkan syahwat secara bertanggung jawab kepada pasangannya. Namun, jika kita mencari pasangan hidup semata-mata dengan orientasi penyaluran kebutuhan biologis, pilihan pasangan pun sebatas pada tujuan itu, yaitu harus bisa memuaskan keperluan syahwatnya. Jalan ini merupakan pilihan masyarakat yang awam akan agama dan jauh dari sentuhan spiritualitas.
Dijalan apa kita menikah? Ada ideologi serba materi. Kekayaan, kemegahan, serba punya. Hidup layaknya borjuis yang segala hal diukur dari aspek materi. Dampaknya ketika menikah, tolok ukurnya pun materi. Memilih suami atau istri, ditinjau dari sisi material. Kekayaan, kecantikan, ketampanan, bentuk tubuh, berat badan, warna kulit, dan sebagainya. Sebuah orientasi sempit yang menghantarkan manusia kepada kerugian. Benarlah kata-kata bijak yang mengingatkan kita akan masalah ini. “Barangsiapa orientas dan cita-citanya hanyalah sebatas pada apa yang masuk kedalam perutnya, maka nilai kemanusiaannya tak lebih dari apa yang keluar dari perutnya.” Jika jalan ini adalah pilihan kita, kerugian sudah pasti merupakan akibatnya. Bukankah materi mempunyai sifat dasar tidak pernah bisa memuaskan??
Dijalan apa kita menikah? Ada jalan setan yang membentang luas disebelah kiri dan kanan kita, mengajak kita melewatinya, dengan berbagai janji-janji keindahan dan kenikmatan. Jalan setan yang menawarkan kebebasan melampiaskan hawa nafsu. Ketika manusia mulai dikuasai setan, yang bergerak dalam hati dan pikirannya hanyalah kekuasaan setan. Segala hal yang dilarang Allah tampak demikian indah dan menyenangkan. Lalu, bagaimana mungkin kita akan memilih menikah di jalan setan, padahal jelas-jelas setan akan menipu dan menyesatkan?
Dijalan apa kita menikah? Nun jauh disana, ada kehidupan yang menolak kemewahan. Adalah serba ruhani, dimana ketidakpunyaan menjadi dasar pilihan. Jalan ini amat menistakan kegelimangan harta material, menolak hidup bergelimang harta, tubuh gemuk, malas ibadah dan syahwat dunia. Akan tetapi, mereka melawan dengan ekstrim sisi yang lain. Padahal sesungguhnya, islam tidak mengharamkan materi selama diperoleh dengan cara yang benar. Sekalipun islam tidak menghendaki umatnya berorientasi serba materi, akan tetapi islam juga menolak jalan serbaruhani yang meniadakan kepentingan material.
Dijalan apa kita menikah? Terbentang pula dengan lurus, jalan para Nabi. Jalan orang-orang sholih yang kini telah bercengkerama ditaman syurga. Inilah harusnya pilihan jalan kita. Jalan menuju kebahagiaan dan kepastian akhir. Jalan yang dipilihkan Allah untuk Nabi dan orang-orang yang mengikutinya. Jalan yang menghantarkan Nabi saw menikahi istri-istrinya. Jalan yang membuat Ummu Sulaim menerima pinangan Abu Thalhah, jalan yang menyebabkan Ali bertemu Fatimah.
Dijalan ini, orang-orang sholih membina rumah tangga. Jalan ini menawarkan orientasi bahwa pernikahan adalah ibadah. Dijalan ini, kecenderungan ruhiyah amat mendapat perhatian, akan tetapi tidak mengabaikan sisi-sisi materi. Di jalan ini, setan terkalahkan oleh orientasi rabbani, hingga menuntun setiap proses dari awal sampai akhir, senantiasa memiliki kontribusi terhadap kebaikan. Sejak dari persiapan diri, memilih jodoh, peminangan, akad nikah hingga walimah dan hidup satu rumah, tidak ada yang dilakukan kecuali dalam kerangka kebaikan dan ibadah.
Lalu, di jalan apa kita menikah?
Sumber: Buku Dijalan Dakwah Aku Menikah, Ust. Cahyadi Takariyawan.
*Follow Us*
- Tumblr: supermomwannabee(dot)tumblr(dot)com
- Twitter: @supermom_w
- Fanpage FB: Supermom Wannabe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar