Siang yang
cerah tidak akan selalu menjamin bahwa sore tidak hujan, seperti hari ini
teriknya matahari di waktu siang hari, tanpa di duga justru mendunglah
yang menyelimuti sore tanpa henti.
Puncaknya hujan petir mengiringi kumandang adzan maghrib, sayup-sayup lantunan
adzan terdengar lebih lirih dari biasanya terkena distorsi pantulan air hujan
ke atas kuatnya genting khas kebumen. Hujan yang cukup istimewa , sangat lebat
di sertai angin dan terkadang sambaran petir ikut menambah romantisnya hujan di
sore ini. Teringat kata-kata murrabi saat perjumpaan pertama halaqoh 7 tahunan
yang lalu, biarlah tetes air hujan ini yang akan menjadi saksi yang membela
kita di akhirat nanti bahwasanya kita telah menabrak mereka demi memenuhi seruanNya.
Sungguh, walaupun saya shalat maghrib tak berjamaah di masjid, ini sudah boleh
karena ada nya udzur syarie yakni hujan lebat. Tapi entah kenapa rasanya hati
ini ingin tetap ke masjid untuk berjamaah. Sejenak kemudian seperti ada seuatu
yang menguji saya untuk mengalah dan tak perlu ke masjid.
Pertama-tama
ketika akan wudhu hujan semakin besar, jarak antara rumah saya dengan tempat
wudhu ada celah kosong yang terkena hujan sekitar 50 cm dan tetiba semua air
hujan di sapu angin ke badan saya. Brrrr... dinginnya terbersit rasa untuk
balik masuk kamar dan wudhunya nanti saja kalau hujannya sudah reda. Rasa itu
saya lawan, sudah basah mending wudhu sekalian. Pada akhirnya wudhu juga dengan
berbasah ria. Selesai berwudhu ketika ganti pakaian, lampu pun padam. Gelap
luar biasa, di kamar sendiran gelap-gelapan bikin hati deg-deg ser....
ngeri-ngeri sedaapp... iqomat pun terdengar, tanpa banyak cingcong ganti
pakaian pun sekenanya dan bergegas ambil payung. Elah dalah tinggal sendalnya
yang entah bersembunyi kemana. Yang ada hanya tinggal sendal kesehatan yang
banyak kayu-kayu menonjol yang katanya buat akupuntur atau apalah namanya.
Khusnuzon aja mungkin Allah nyediain nih sandal biar ane lebih sehat, wushhh... kemudian ane lari-lari kecil di antara hujan menuju
rumah Allah yang berada sekitar 50 meteran dari rumah.
Dikala
derasnya hujan dan lompatan lompatan kecil memenuhi panggilan tuhan, saya pun
menyempatkan berdoa. Ya allah jadikalah derasnya hujan ini sebagai pemberat
amalan kebaikan saya, ya allah izinkanlah saya termasuk kedalam golongan orang
yang masuk syurga tanpa hisab melalui jalan jihad. Matikanlah saya dengan cara
kening saya tertembus peluru ketika saya sedang di sibukkan menegakan agamaMu
dan memerangi musuh-mushMu, ya Allah berikanlah saya istri yang sholehah, yang
pandai masak dan yang ga jijikan.... sreetttt gubraakkk... tiba-tiba badan
terpelanting jatuh kebelakang dengan posisi tubuh menghadap kelangit... masya
Allah belum selesai juga ujiannya, badan basah kuyup untung jatuhnya di rerumputan
jadi ga terlalu kotor... terbersit pikiran untuk pulang dan ga jadi shalat
berjamaah –masih sambil posisi tiduran. Tapi udah ¾ jalan masa menyerah dan
pulang, lalu ane sadar ini gara-gara sendal akupuntur yang nyakitin kaki hingga
ga konsen liat jalan... ohh jadi ini maksud Allah nyiapin sendal itu, yaitu
buat nyadarin ane jatuh itu sakit.. jadi harus lebih hati-hati kalau sedang
onMission. Harus fokus pada misi utama walau ada yang selalu membuat kita sakit
dan tidak nyaman tapi jangan sampai membuat lengah sehingga bisa mencelakai
diri kita sendiri. Tak lama kemudian ane
bangkit dan liat kondisi badan ga terlalu kotor, jadi tetep nekat lanjutkan
misi menuju kerumah zat yang membuat hujan dan yang sudah mencatatkan bahawa
ane harus jatuh dulu sebelum shalat maghrib kali ini.
Sesampainya di
masjid dengan kondisi basah kuyup dan tertinggal 1 rakaat ane langsung gabung
dengan 3 orang uzur yang tetap istiqomah berjamaah walaupun hujan dahsyat
sedang di ujikan kepada para hambanya sebelum memberi kenikmatan Ar-rahimnya
kepada mereka. Alhamdulillah basah... jadi mandi juga yang tadinya malas buat
nyetuh air dan akhirnya bisa main hujan-hujanan layaknya anak kecil.. sejenak bisa
melupakan bahwa saya sudah berumur dan belum punya pasangan, sejenak bisa melupakan
bahwa saya sudah tak berpenghasilan selama 7 bulan, sejenak bisa melupakan bahwa saya sudah terlalu gemuk
bahkan untuk bangkit dari jatuh saja butuh tenaga dan waktu ekstra.. sejenak bisa
melupakan bahwa hati ini sudah di penuhi cinta ilegal kepada dia yang belum
tentu akan di jodohkan dengan saya...
Ninggalin jejak dulu ya... ��
BalasHapusMaaf pake anonim
Hapus