Namanya anugrah maupun bencana, itu bisa datang dari segala penjuru. Dari depan, belakang, kanan, kiri, atas dan bawah. Tugas kita adalah menyambutnya, atau mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
Indonesia bisa dibilang berstatus “supermarket bencana”. Hampir segala jenis bencana (bencana alam) ada disini. Karenanya, rakyat Indonesia perlu disiapkan menjadi barisan laskar kemanusiaan. Bagaimana profil laskar kemanusiaan yang ideal?
Pertama, Tangguh Fisiknya
Laskar kemanusiaan tidak harus memiliki fisik seperti pegulat Smackdown layaknya John Cena atau The Rock. Ukuran ketangguhan fisiknya diukur dari kemampuannya untuk bertahan dan berkiprah saat diterjunkan dimedan jihad atau medan bencana.
Laskar kemanusiaan tidak harus memiliki fisik seperti pegulat Smackdown layaknya John Cena atau The Rock. Ukuran ketangguhan fisiknya diukur dari kemampuannya untuk bertahan dan berkiprah saat diterjunkan dimedan jihad atau medan bencana.
Di daerah perang atau bencana, kita akan dihadapkan pada kondisi yang sulit. Medan yang terjal, peralatan terbatas, makanan minim, pekerjaan yang berat, kurang tidur, kurang tenaga relawan dll. Disini akan terlihat siapa laskar yang terlatih dan siapa laskar karbitan.
Karenanya, laskar kemanusiaan perlu didik dengan standar kemiliteran secara periodik dan berkala. Mulai dari agenda naik turun gunung sampai long march 18 jam.
Kedua, Kuat Ruhiahnya
Laskar kemanusiaan harus memiliki ruhiah yang kuat. Karena sangat mungkin dia harus menolong pihak yang membencinya atau dibencinya. Seperti halnya dokter : “Dia harus menolong dan mengobati siapapun yang datang kepadanya. Tak terkecuali penjahat atau preman sekalipun”.
Laskar kemanusiaan harus memiliki ruhiah yang kuat. Karena sangat mungkin dia harus menolong pihak yang membencinya atau dibencinya. Seperti halnya dokter : “Dia harus menolong dan mengobati siapapun yang datang kepadanya. Tak terkecuali penjahat atau preman sekalipun”.
Sangat mungkin pula dia harus beribadah secara minimalis. Semua serba jamak dan qashar. Beragam rukhsoh akhirnya harus diambil, mengingat situasinya yang sulit untuk melaksanakan ibadah secara sempurna.
Sangat mungkin pula banyak pihak akan mencibirnya. Dianggap sebagai pencitraan, manuver politik, pamer amal dan lain sebagainya. Disinilah letak ujian keikhlasan dan keteguhannya sebagai orang beriman.
Sangat mungkin pula ia tidak mendapatkan penghargaan dan reward. Karena mereka memang bukan satuan organik yang diakui dan difasilitasi pemerintah. Padahal bisa jadi aksi dan kiprahnya lebih keras. Seperti halnya yang dilakukan oleh stuntman atau pekerja outsourching.
Sangat mungkin pula dia justru mendapatkan musibah dan kemalangan dalam aksi kemanusiaan itu. Mulai dari dikeluarkan dari tempat kerjanya, terkena virus dan wabah penyakit, mengalami insiden / kecelakaan atau bahkan ikut menjadi korban.
Karenanya, laskar kemanusiaan harus dididik agar memiliki ruhiah yang tinggi. Itulah yang akan memberinya motivasi ekstra untuk tetap bertahan dan terus bergerak.
Ketiga, Tinggi Skill-nya
Laskar kemanusiaan harus memiliki beragam ketrampilan yang terstandardisasi, baik kemampuan untuk bertahan hidup (survival), menolong orang, memberi motivasi, membina masyarakat dll. Meski ada spesialisasi, namun secara prinsip semua ketrampilan harus dimiliki.
Laskar kemanusiaan harus memiliki beragam ketrampilan yang terstandardisasi, baik kemampuan untuk bertahan hidup (survival), menolong orang, memberi motivasi, membina masyarakat dll. Meski ada spesialisasi, namun secara prinsip semua ketrampilan harus dimiliki.
Situasi darurat tidak sama keadaannya dengan situasi normal. Perubahan posisi dan peran dilapangan bisa sangat lentur. Relawan kemanusiaan harus dibekali ketrampilan disemua pos dan lini sehingga menjadi barisan penolong serba guna.
Laskar kemanusiaan dikirim untuk membantu korban bencana, bukan untuk membebani korban. Laskar kemanusiaan berkiprah untuk memberi harapan kepada masyarakat, bukan untuk meminta sumbangan kepada donatur.
Proses evakuasi hanyalah langkah awal tahap tanggap darurat. Proses selanjutnya masih lama. Memberi motivasi untuk berani menghadapi hidup kadang lebih sulit daripada berani menghadapi mati. Terlebih saat mereka sudah kehilangan segalanya.
Karenanya, laskar kemanusiaan perlu diberi beragam kemampuan dan ketrampilan. Beda tahapan bencana, beda pula jenis kemampuan dan ketrampilan yang dibutuhkan.
Khatimah
Bagi saudara seperjuangan yang tengah berjihad di daerah bencana, kami ucapkan selamat berjuang. Semoga Allah meringankan langkahmu dan memudahkan perjuanganmu. Amin.
Bagi saudara seperjuangan yang tengah berjihad di daerah bencana, kami ucapkan selamat berjuang. Semoga Allah meringankan langkahmu dan memudahkan perjuanganmu. Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar