Senin, 15 Desember 2014

Jatuh kepada pemilik hujan

Siang yang cerah tidak akan selalu menjamin bahwa sore tidak hujan, seperti hari ini teriknya matahari di waktu siang hari, tanpa di duga justru mendunglah yang  menyelimuti sore tanpa henti. Puncaknya hujan petir mengiringi kumandang adzan maghrib, sayup-sayup lantunan adzan terdengar lebih lirih dari biasanya terkena distorsi pantulan air hujan ke atas kuatnya genting khas kebumen. Hujan yang cukup istimewa , sangat lebat di sertai angin dan terkadang sambaran petir ikut menambah romantisnya hujan di sore ini. Teringat kata-kata murrabi saat perjumpaan pertama halaqoh 7 tahunan yang lalu, biarlah tetes air hujan ini yang akan menjadi saksi yang membela kita di akhirat nanti bahwasanya kita telah menabrak mereka demi memenuhi seruanNya. Sungguh, walaupun saya shalat maghrib tak berjamaah di masjid, ini sudah boleh karena ada nya udzur syarie yakni hujan lebat. Tapi entah kenapa rasanya hati ini ingin tetap ke masjid untuk berjamaah. Sejenak kemudian seperti ada seuatu yang menguji saya untuk mengalah dan tak perlu ke masjid.
Pertama-tama ketika akan wudhu hujan semakin besar, jarak antara rumah saya dengan tempat wudhu ada celah kosong yang terkena hujan sekitar 50 cm dan tetiba semua air hujan di sapu angin ke badan saya. Brrrr... dinginnya terbersit rasa untuk balik masuk kamar dan wudhunya nanti saja kalau hujannya sudah reda. Rasa itu saya lawan, sudah basah mending wudhu sekalian. Pada akhirnya wudhu juga dengan berbasah ria. Selesai berwudhu ketika ganti pakaian, lampu pun padam. Gelap luar biasa, di kamar sendiran gelap-gelapan bikin hati deg-deg ser.... ngeri-ngeri sedaapp... iqomat pun terdengar, tanpa banyak cingcong ganti pakaian pun sekenanya dan bergegas ambil payung. Elah dalah tinggal sendalnya yang entah bersembunyi kemana. Yang ada hanya tinggal sendal kesehatan yang banyak kayu-kayu menonjol yang katanya buat akupuntur atau apalah namanya. Khusnuzon aja mungkin Allah nyediain nih sandal biar ane lebih sehat,  wushhh... kemudian  ane lari-lari kecil di antara hujan menuju rumah Allah yang berada sekitar 50 meteran dari rumah.
Dikala derasnya hujan dan lompatan lompatan kecil memenuhi panggilan tuhan, saya pun menyempatkan berdoa. Ya allah jadikalah derasnya hujan ini sebagai pemberat amalan kebaikan saya, ya allah izinkanlah saya termasuk kedalam golongan orang yang masuk syurga tanpa hisab melalui jalan jihad. Matikanlah saya dengan cara kening saya tertembus peluru ketika saya sedang di sibukkan menegakan agamaMu dan memerangi musuh-mushMu, ya Allah berikanlah saya istri yang sholehah, yang pandai masak dan yang ga jijikan.... sreetttt gubraakkk... tiba-tiba badan terpelanting jatuh kebelakang dengan posisi tubuh menghadap kelangit... masya Allah belum selesai juga ujiannya, badan basah kuyup untung jatuhnya di rerumputan jadi ga terlalu kotor... terbersit pikiran untuk pulang dan ga jadi shalat berjamaah –masih sambil posisi tiduran. Tapi udah ¾ jalan masa menyerah dan pulang, lalu ane sadar ini gara-gara sendal akupuntur yang nyakitin kaki hingga ga konsen liat jalan... ohh jadi ini maksud Allah nyiapin sendal itu, yaitu buat nyadarin ane jatuh itu sakit.. jadi harus lebih hati-hati kalau sedang onMission. Harus fokus pada misi utama walau ada yang selalu membuat kita sakit dan tidak nyaman tapi jangan sampai membuat lengah sehingga bisa mencelakai diri kita sendiri.  Tak lama kemudian ane bangkit dan liat kondisi badan ga terlalu kotor, jadi tetep nekat lanjutkan misi menuju kerumah zat yang membuat hujan dan yang sudah mencatatkan bahawa ane harus jatuh dulu sebelum shalat maghrib kali ini.

Sesampainya di masjid dengan kondisi basah kuyup dan tertinggal 1 rakaat ane langsung gabung dengan 3 orang uzur yang tetap istiqomah berjamaah walaupun hujan dahsyat sedang di ujikan kepada para hambanya sebelum memberi kenikmatan Ar-rahimnya kepada mereka. Alhamdulillah basah... jadi mandi juga yang tadinya malas buat nyetuh air dan akhirnya bisa main hujan-hujanan layaknya anak kecil.. sejenak bisa melupakan bahwa saya sudah berumur dan belum punya pasangan, sejenak bisa melupakan bahwa saya sudah tak berpenghasilan selama 7 bulan, sejenak bisa  melupakan bahwa saya sudah terlalu gemuk bahkan untuk bangkit dari jatuh saja butuh tenaga dan waktu ekstra.. sejenak bisa melupakan bahwa hati ini sudah di penuhi cinta ilegal kepada dia yang belum tentu akan di jodohkan dengan saya...

2 komentar: