Senin, 22 Desember 2014

Ini Dia Tomat Hitam Pertama di Dunia

Metrotvnews.com, Sutton: Seorang pria di Inggris menyatukan dua tanaman untuk menghasilkan varietas baru tomat Hitam dan Putih pertama di dunia.

Sejumlah ahli tanaman di Sutton Seeds, London, Inggris, sebelumnya sudah menciptakan varietas baru bernama Indigo Rose - tomat hitam satu-satunya di planet Bumi.

Belakangan ini, mereka mencampurkan Indigo Rose dengan buah cherry putih untuk menghasilkan tomat hitam dan putih.

"Tahun ini kami menggabungkan Indigo Rose dengan cherry putih-krem untuk memproduksi tanaman tomat hitam dan putih pertama," ucap juru bicara Sutton Seeds, seperti dikutip Mirror.co.uk, belum lama ini.

"Kami yakin tanaman ini akan membuat teman, tetangga dan keluarga Anda semua terkaget-kaget," sambung dia.

Tomat hitam dan putih ini sudah mulai dijual satuan di Inggris seharga GBP4 atau setara Rp77 ribu.

sumuber

Selamat hari ibu buat seluruh ibu terbaik dunia, siap 86


Sepulang dari bandung langsung ngoprek laptop ngubek-ngubek file materi jaman kuliah dulu, dan ternyata nemu foto ini di folder organisasi dan pas banget momentnya yaitu HARI IBU 22 Desember 2014. selamat hari ibu, kasihmu bagai sang surya yang menyinari dunia :) 


sumbernya dari foto-foto kegiatan UKKI (unit kegiatan kerohanian Islam) Universitas Senderal Soedirman

Rabu, 17 Desember 2014

alhamdulillah level 4 done!!!

menjadi bagian dari PLAT MERAH sebenarnya tak pernah terbersit sedikitpun, tapi pada pertengahan agustus 2014 mulai deh iseng-iseng berhadiah nyoba ikutan jadi jobseeker di PTPN VIII Jawa Barat. surat lamaran pertama kali nya yang saya buat dalam seumur hidup saya pun terkirim dengan tipe pengiriman paling murah -karena niatnya cuma iseng. sebulan, 2 bulan pasca pengiriman ko ga ada ciri-ciri si hilal akan nampak di web resmi PN VIII. sudahlah, mungkin mereka lupa sudah pernah mengadakan lowongan kerja karena setelah 2 bulanan ga ada info lanjutan. ga ada angin ga ada hujan di akhir oktober pas lagi iseng buka email ternyata ada pengumuman kelulusan tahap administrasi dari PN8 jabar. Subhanallah, ternyata mereka ga lupa hanya ngetest keseriusan para calon peserta dengan memberi PHP selama hampir 3 bulan. Alhamdulillah saya menjadi bagian dari 9678 calon SINDER yang tersaring dari 20.000an pendaftar. fiuuuhhh apesnya dari 9678 itu cuma bakalan di ambil 90 SINDER, apa ga jadi superman kalau saya nantinya jadi SINDER setelah mengalahkan 100 peserta lain karena perbandingannya 1:100. 

test sendiri sangat berlapis ada 8 lapis,
1. tahap kelengkapan administrasi
2. test kesediaan
3. test pemahaman dasar
4. test bidang tugas
5. test psikotest
6. test beha viour
7. test wawancara
8. test medical check up
bener-bener seperti memasuki lubang jarum, seleksi ketat layaknya seorang putri mencari pangeran berkuda putih. pasca pengumuman kelulusan administrasi kemudian test tahap 1 diselenggarakan awal oktober, dari 9678 tersaring menjadi 3268an peserta termasuk saya, mungkin karena ter PHP kan selama 3 bulan 6000 an orang sudah Move on dan pindah ke lain perusahaan. test tahap 2 pun di laksanakan lagi pada akhir oktober dan tersaring lagi menjadi 1000an peserta, saya pun terus berlanjut. kemudian tanggal 29 nopember ada ujian tahap 3 di secapa bandung dari 1000 an yang bisa dateng cuma 800an, syukurlah ada seleksi alam yang mengurangi jatah persaingan. Alhamdulillah tadi sore nama saya masih nyangkut di antara 500 an peserta yang berhak masuk ke stage berikutnya untuk mengikuti test psikotest  di Secapa AD bandung,. ketemu om tentara yang unyu-unyu lagi dan mungkin di bentak - bentak lagi. 

Add caption
lolos 4 tahap memang belum menghasilkan apa-apa tapi saya sangat puas melihat expresi muka ibu saya ketika dengan penuh semangat saya mengatakan, Alhamdulillah ma saya lolos dan sabtu harus ke bandung.... puasnya tuh di sini -nunjuk dada ( bukan dada Jupe atau malinda dee) sendiri. 

yah, kudu nyiapin modal ekstra masih 5 kali lagi bolak-balik majenang bandung untuk menjadi superman eh Sinder... tapi kalau kata Mas Begras dulu adalah apa yang kita dapatkan adalah hasil dari apa yang kita korbankan... semoga modal 300 ribu kali 6 dan ongkos non material seperti pegel-pegel, mabuk perjalanan dan pusing berkepanjangan terbalas sempurna dengan senyuman bangga seorang ibu melihat anak pertamanya menjadi SuperSinderMan ber PLAT MERAH. aamiiin...


nb: right man, musti di tempatkeun kana on right place ( Usep K ) 





Tak Putus Berharap Kepada Allah

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim


Pernah mendengar motivasi seperti ini? "Semua tergantung pada Anda. Bergantunglah pada diri sendiri. Andalah yang menentukan." Tampaknya kalimat ini sangat bagus, tetapi jika kita mengingat do'a yang diajarkan oleh Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam, justru kita mendapati tuntunan yang berkebalikan dengan motivasi tersebut.

Mari kita ingat sejenak do'a berikut:


"اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ"

"Ya Allah, rahmat-Mu yang kuharapkan. Maka janganlah Engkau jadikan aku bergantung kepada diriku sendiri, walaupun hanya sekejap mata. Dan perbaikilah seluruh keadaanku. Tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Engkau." Do'a dari hadis shahih riwayat Abu Dawud.

Do'a yang diajarkan oleh Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam ini mengingatkan kita kepada do'a lainnya riwayat Tirmidzi dan Ahmad:


"اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ"

"Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal dari-Mu dan jauhkanlah aku dari yang Engkau haramkan. Dan cukupkanlah (kayakan) aku dengan keutamaan rezeki-Mu sehingga tidak perlu aku kepada selain-Mu." (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad).

Keduanya adalah do'a. Sebuah do'a, di satu sisi adalah permohonan kepada Allah Jalla wa 'Ala. Di sisi lain, ia adalah ikrar kepada Allah Ta'ala. Kedua do'a tersebut mengajarkan kepada kita untuk berusaha dengan sungguh-sungguh seraya memohon pertolongan kepada Allah Jalla wa 'Ala agar tidak bergantung kepada siapa pun, selain hanya kepada Allah Ta'ala. Bahkan kepada diri sendiri pun, tidak bergantung kepadanya.

Kita masing-masing akan mempertanggung-jawabkan seluruh amal kita, zahir maupun batin. Tetapi ini bukan berarti perintah untuk bergantung kepada diri sendiri. Sungguh, di antara ketergelinciran manusia adalah menjadikan diri sendiri sebagai tempat bergantung. Ia melihat kuatnya kehendak dan pikiran sendiri sebagai penentu segala sesuatu. Ia lupa kepada Yang Menggenggam Hati, Allah Ta'ala.

Sebagian manusia melihat peristiwa-peristiwa alam yang luar biasa, lalu ia merasa kecil di hadapan alam semesta, kemudian tunduk kepadanya. Dan di antara manusia ada yang menjadikan diri sendiri serta alam semesta sebagai kekuatan terbesar yang amat menentukan. Astaghfirullahal 'adzim. Semoga Allah Ta'ala melindungi kita dari terkelabuinya diri (ghurur) terhadap apa yang tampaknya benar, tetapi hakekatnya sangat batil.

Maka, marilah kita tak bosan-bosan memanjatkan do'a sepenuh kesungguhan seraya menghayati apa yang kita mintakan kepada Allah Ta'ala:


"اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ"

"Ya Allah, tunjukkan kepada kami bahwa yang benar itu benar dan berikanlah rezeki kepada kami kemampuan untuk mengikutinya Dan tunjukkan kepada kami bahwa yang salah itu salah, dan berikan rezeki kepada kami kekuatan untuk menjauhinya."

Inilah do'a memohon perlindungan agar tak tertipu persepsi diri sendirihttp://www.facebook.com/notes/mohammad-fauzil-adhim/agar-tak-tertipu-persepsi-diri-sendiri/458077510908049

Sesungguhnya persepsi tak mengubah realitas. Disebabkan oleh persepsi, apa yang benar dapat tampak batil di mata kita. Begitu pun sebaliknya, apa yang batil dapat saja tampak benar. Dan jalan yang membawa kita pada kejayaan di dunia dan keselamatan di akhirat hanyalah jalan yang sungguh-sungguh benar.

Maka, yang paling penting dalam menjalani hidup ini bukanlah persepsi kita, tetapi pengetahuan, pemahaman dan ketundukan hati untuk jalan yang lurus; kebenaran yang benar-benar sesuai tuntunan. Bukan kita mempersepsi benar, padahal batil. Ini mengharuskan kita untuk senantiasa belajar mengilmui apa yang kita lakukan, terlebih dalam masalah agama. Tanpa mengilmui, kita hanya akan mengikuti persangkaan (zhan)semata.

Do'a ini juga sekaligus pelajaran kepada kita bahwa kebenaran itu ada, kebatilan itu ada. Jalan yang lurus itu ada, jalan sesat pun ada. Sungguh, siapa yang sesat akan celaka untuk selama-lamanya. Amat besar kerugiannya. Maka kita berdo'a kepada Allah Ta'ala, setiap hari, agar ditunjuki jalan yang lurus (shiratal mustaqim). Bukan jalan mereka yang dimurkai. Bukan pula jalan mereka yang sesat.

Marilah kita renungkan sejenak do'a yang kita ucapkan setiap kali kita shalat, dalam surat Al-Fatihah yang kita baca di setiap raka'atnya:


اهدنا الصراط المستقيم

"Tunjukilah kami jalan yang benar."


صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين

"(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka. Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."



Maka, bagaimana kita merasa telah mendirikan shalat dan menegakkannya, jika kita mengingkari ada yang lurus dan ada yang sesat? 

Bukan hak kita untuk menganggap sesat kepada siapa pun yang kita kehendaki. Tapi bukan hak kita juga untuk membantah Allah Ta'ala terhadap apa yang dinyatakan-Nya sebagai sesat dan dimurkai. Maka, sepatutnya kita mengilmui tentang jalan yang lurus dan jalan yang sesat.

Semoga kita tidak termasuk golongan yang mendukung kesesatan, padahal telah nyata kesesatannya. Semoga pula kita tak termasuk yang merasa diri sendiri sebagai yang paling benar. Sembari berusaha untuk menapaki jalan yang benar, kita telisik diri barangkali amat banyak kesesatan dalam diri kita yang berkerak. Sedemikian tebalnya kerak kesesatan itu dalam diri kita sehingga meradang jika diingatkan.

Berhati-hatilah dari terhadap mudah tersinggungnya diri saat ada yang membicarakan kesesatan. Di antara sebab terjatuhnya seseorang menjadi liberal adalah karena amat tak suka mendengar kata sesat, lalu tergelincir lebih jauh sehingga menganggap semua agama benar.

Jika ada perbedaan pendapat, maka marilah kita belajar bertutur dengan hujjah yang jelas, penjabaran yang tuntas dan penuturan yang baik. Marilah kita kenang betapa cantik cara Imam Syafi'i berbeda pendapat dengan guru maupun muridnya. Inilah berhimpunnya faqih dan taqwa.

Allah Ta'ala Yang Maha Tahu. Nasehati saya dengan kebenaran, kesabaran dan kasih-sayang. Tawashau bil haq, wa tawashau bish-shabr, wa tawashau bil marhamah.

Selasa, 16 Desember 2014

PKS Bercahaya: Laskar Kemanusiaan, Dakwah Siaga Bencana

Namanya anugrah maupun bencana, itu bisa datang dari segala penjuru. Dari depan, belakang, kanan, kiri, atas dan bawah. Tugas kita adalah menyambutnya, atau mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
Indonesia bisa dibilang berstatus “supermarket bencana”. Hampir segala jenis bencana (bencana alam) ada disini. Karenanya, rakyat Indonesia perlu disiapkan menjadi barisan laskar kemanusiaan. Bagaimana profil laskar kemanusiaan yang ideal?
Pertama, Tangguh Fisiknya
Laskar kemanusiaan tidak harus memiliki fisik seperti pegulat Smackdown layaknya John Cena atau The Rock. Ukuran ketangguhan fisiknya diukur dari kemampuannya untuk bertahan dan berkiprah saat diterjunkan dimedan jihad atau medan bencana.
Di daerah perang atau bencana, kita akan dihadapkan pada kondisi yang sulit. Medan yang terjal, peralatan terbatas, makanan minim, pekerjaan yang berat, kurang tidur, kurang tenaga relawan dll. Disini akan terlihat siapa laskar yang terlatih dan siapa laskar karbitan.
Karenanya, laskar kemanusiaan perlu didik dengan standar kemiliteran secara periodik dan berkala. Mulai dari agenda naik turun gunung sampai long march 18 jam.
Kedua, Kuat Ruhiahnya
Laskar kemanusiaan harus memiliki ruhiah yang kuat. Karena sangat mungkin dia harus menolong pihak yang membencinya atau dibencinya. Seperti halnya dokter : “Dia harus menolong dan mengobati siapapun yang datang kepadanya. Tak terkecuali penjahat atau preman sekalipun”.
Sangat mungkin pula dia harus beribadah secara minimalis. Semua serba jamak dan qashar. Beragam rukhsoh akhirnya harus diambil, mengingat situasinya yang sulit untuk melaksanakan ibadah secara sempurna.
Sangat mungkin pula banyak pihak akan mencibirnya. Dianggap sebagai pencitraan, manuver politik, pamer amal dan lain sebagainya. Disinilah letak ujian keikhlasan dan keteguhannya sebagai orang beriman.
Sangat mungkin pula ia tidak mendapatkan penghargaan dan reward. Karena mereka memang bukan satuan organik yang diakui dan difasilitasi pemerintah. Padahal bisa jadi aksi dan kiprahnya lebih keras. Seperti halnya yang dilakukan oleh stuntman atau pekerja outsourching.
Sangat mungkin pula dia justru mendapatkan musibah dan kemalangan dalam aksi kemanusiaan itu. Mulai dari dikeluarkan dari tempat kerjanya, terkena virus dan wabah penyakit, mengalami insiden / kecelakaan atau bahkan ikut menjadi korban.
Karenanya, laskar kemanusiaan harus dididik agar memiliki ruhiah yang tinggi. Itulah yang akan memberinya motivasi ekstra untuk tetap bertahan dan terus bergerak.
Ketiga, Tinggi Skill-nya
Laskar kemanusiaan harus memiliki beragam ketrampilan yang terstandardisasi, baik kemampuan untuk bertahan hidup (survival), menolong orang, memberi motivasi, membina masyarakat dll. Meski ada spesialisasi, namun secara prinsip semua ketrampilan harus dimiliki.
Situasi darurat tidak sama keadaannya dengan situasi normal. Perubahan posisi dan peran dilapangan bisa sangat lentur. Relawan kemanusiaan harus dibekali ketrampilan disemua pos dan lini sehingga menjadi barisan penolong serba guna.
Laskar kemanusiaan dikirim untuk membantu korban bencana, bukan untuk membebani korban. Laskar kemanusiaan berkiprah untuk memberi harapan kepada masyarakat, bukan untuk meminta sumbangan kepada donatur.
Proses evakuasi hanyalah langkah awal tahap tanggap darurat. Proses selanjutnya masih lama. Memberi motivasi untuk berani menghadapi hidup kadang lebih sulit daripada berani menghadapi mati. Terlebih saat mereka sudah kehilangan segalanya.
Karenanya, laskar kemanusiaan perlu diberi beragam kemampuan dan ketrampilan. Beda tahapan bencana, beda pula jenis kemampuan dan ketrampilan yang dibutuhkan.
Khatimah
Bagi saudara seperjuangan yang tengah berjihad di daerah bencana, kami ucapkan selamat berjuang. Semoga Allah meringankan langkahmu dan memudahkan perjuanganmu. Amin.

Senin, 15 Desember 2014

PKS: apapun yang terjadi kami tetap melayani

ustadz wahid ahmadi

Waktu Tsunami Aceh terjadi, saya mendengar kawan-kawan dari PKS begitu gigih membantu penanganan bencana dan mereka menjadi begitu dekat dengan masyarakat korban. Namun ketika Pemilu dan Pilkada, PKS tidak mndapat dukungan signifikan di Aceh. 

Hal serupa terjadi di Banjarnegara tahun 2006, team Kepanduan PKS Jateng aktif berkiprah membantu, dan lagi2 tidak "dibalas" dg dukungan signifikan dalam Pemilu berikutnya. Juga bencana gempa Jogja pada tahun yang sama, kegiatan kerja bakti bantu korban bencana mnjdi kegiatan harian yang melibatkan kader hampir seluruh Jateng selama beberapa waktu. Namun gak ada media yang meliput dan lagi2 gak ada dukungan timbal balik yang signifikan bagi partai ini dr masyarakat Jogja dan sekitarnya. 





Jika seperti itu kondisinya, perlukah kini Kepanduan PKS Jateng mengirim relawannya untuk membantu masyarakat yang kena musibah longsor di Banjarnegara?


Ternyata gak "kapok" juga nih mereka. Pagi ini, saya sudah denger kabar DPD-DPD PKS se Jateng mengirimkan team relawannya ke Banjarnegara, sebagian bahkan sudah mengapload gambar-gambar mereka di lapangan, bahkan beberapa koran Jateng memajang foto di halaman muka dengan pemandangan relawan berseragam Kepanduan PKS mengevakuasi mayat. 





Selamat bekerja kawan, kalian gak perlu mikir liputan media, gak usah mikir dukungan politik, apalagi sekadar ucapan terima kasih. Biarlah para malaikat mencatat kerja-kerja kalian dan sejauhmana kalian didukung scr politik oleh sesama manusia, biarlah malaikat (atas izin Allah) yang menghitung kelayakannya.. Kalian hanya perlu membantu dan bekerja, doaku menyertaimu dan semoga para korban ditempatkan di tempat mulia di sisi Allah sesuai amalnya, dan yang ditinggal mendapatkan kesabaran..


apapun yang terjadi kami tetap melayani 









Jatuh kepada pemilik hujan

Siang yang cerah tidak akan selalu menjamin bahwa sore tidak hujan, seperti hari ini teriknya matahari di waktu siang hari, tanpa di duga justru mendunglah yang  menyelimuti sore tanpa henti. Puncaknya hujan petir mengiringi kumandang adzan maghrib, sayup-sayup lantunan adzan terdengar lebih lirih dari biasanya terkena distorsi pantulan air hujan ke atas kuatnya genting khas kebumen. Hujan yang cukup istimewa , sangat lebat di sertai angin dan terkadang sambaran petir ikut menambah romantisnya hujan di sore ini. Teringat kata-kata murrabi saat perjumpaan pertama halaqoh 7 tahunan yang lalu, biarlah tetes air hujan ini yang akan menjadi saksi yang membela kita di akhirat nanti bahwasanya kita telah menabrak mereka demi memenuhi seruanNya. Sungguh, walaupun saya shalat maghrib tak berjamaah di masjid, ini sudah boleh karena ada nya udzur syarie yakni hujan lebat. Tapi entah kenapa rasanya hati ini ingin tetap ke masjid untuk berjamaah. Sejenak kemudian seperti ada seuatu yang menguji saya untuk mengalah dan tak perlu ke masjid.
Pertama-tama ketika akan wudhu hujan semakin besar, jarak antara rumah saya dengan tempat wudhu ada celah kosong yang terkena hujan sekitar 50 cm dan tetiba semua air hujan di sapu angin ke badan saya. Brrrr... dinginnya terbersit rasa untuk balik masuk kamar dan wudhunya nanti saja kalau hujannya sudah reda. Rasa itu saya lawan, sudah basah mending wudhu sekalian. Pada akhirnya wudhu juga dengan berbasah ria. Selesai berwudhu ketika ganti pakaian, lampu pun padam. Gelap luar biasa, di kamar sendiran gelap-gelapan bikin hati deg-deg ser.... ngeri-ngeri sedaapp... iqomat pun terdengar, tanpa banyak cingcong ganti pakaian pun sekenanya dan bergegas ambil payung. Elah dalah tinggal sendalnya yang entah bersembunyi kemana. Yang ada hanya tinggal sendal kesehatan yang banyak kayu-kayu menonjol yang katanya buat akupuntur atau apalah namanya. Khusnuzon aja mungkin Allah nyediain nih sandal biar ane lebih sehat,  wushhh... kemudian  ane lari-lari kecil di antara hujan menuju rumah Allah yang berada sekitar 50 meteran dari rumah.
Dikala derasnya hujan dan lompatan lompatan kecil memenuhi panggilan tuhan, saya pun menyempatkan berdoa. Ya allah jadikalah derasnya hujan ini sebagai pemberat amalan kebaikan saya, ya allah izinkanlah saya termasuk kedalam golongan orang yang masuk syurga tanpa hisab melalui jalan jihad. Matikanlah saya dengan cara kening saya tertembus peluru ketika saya sedang di sibukkan menegakan agamaMu dan memerangi musuh-mushMu, ya Allah berikanlah saya istri yang sholehah, yang pandai masak dan yang ga jijikan.... sreetttt gubraakkk... tiba-tiba badan terpelanting jatuh kebelakang dengan posisi tubuh menghadap kelangit... masya Allah belum selesai juga ujiannya, badan basah kuyup untung jatuhnya di rerumputan jadi ga terlalu kotor... terbersit pikiran untuk pulang dan ga jadi shalat berjamaah –masih sambil posisi tiduran. Tapi udah ¾ jalan masa menyerah dan pulang, lalu ane sadar ini gara-gara sendal akupuntur yang nyakitin kaki hingga ga konsen liat jalan... ohh jadi ini maksud Allah nyiapin sendal itu, yaitu buat nyadarin ane jatuh itu sakit.. jadi harus lebih hati-hati kalau sedang onMission. Harus fokus pada misi utama walau ada yang selalu membuat kita sakit dan tidak nyaman tapi jangan sampai membuat lengah sehingga bisa mencelakai diri kita sendiri.  Tak lama kemudian ane bangkit dan liat kondisi badan ga terlalu kotor, jadi tetep nekat lanjutkan misi menuju kerumah zat yang membuat hujan dan yang sudah mencatatkan bahawa ane harus jatuh dulu sebelum shalat maghrib kali ini.

Sesampainya di masjid dengan kondisi basah kuyup dan tertinggal 1 rakaat ane langsung gabung dengan 3 orang uzur yang tetap istiqomah berjamaah walaupun hujan dahsyat sedang di ujikan kepada para hambanya sebelum memberi kenikmatan Ar-rahimnya kepada mereka. Alhamdulillah basah... jadi mandi juga yang tadinya malas buat nyetuh air dan akhirnya bisa main hujan-hujanan layaknya anak kecil.. sejenak bisa melupakan bahwa saya sudah berumur dan belum punya pasangan, sejenak bisa melupakan bahwa saya sudah tak berpenghasilan selama 7 bulan, sejenak bisa  melupakan bahwa saya sudah terlalu gemuk bahkan untuk bangkit dari jatuh saja butuh tenaga dan waktu ekstra.. sejenak bisa melupakan bahwa hati ini sudah di penuhi cinta ilegal kepada dia yang belum tentu akan di jodohkan dengan saya...

Minggu, 14 Desember 2014

Karena Ukuran Kita Tak Sama

oleh Salim A. Fillah dalam Inspirasi. 02/04/2012

seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya
memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti
memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan
kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi



Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.
Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,
“Masya Allah” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!”
Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab.
”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya,
“Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!”
Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.
”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah akan menanyakannya padaku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai ‘Utsman!” ’Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya bersiponggang menggema memenuhi lembah dan bukit di sekalian padang.
“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman,“Akan kusuruh pembantuku menangkapnya untukmu!”.
”Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman! Masuklah!”
“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.“
“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai pasirnya mengganas!”
Angin makin kencang membawa butiran pasir membara. ‘Utsman pun masuk dan menutup pintu dangaunya. Dia bersandar dibaliknya & bergumam,
”Demi Allah, benarlah Dia & RasulNya. Engkau memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi terpercaya.”
‘Umar memang bukan ‘Utsman. Pun juga sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki.
‘Umar, jagoan yang biasa bergulat di Ukazh, tumbuh di tengah bani Makhzum nan keras & bani Adi nan jantan, kini memimpin kaum mukminin. Sifat-sifat itu –keras, jantan, tegas, tanggungjawab & ringan tangan turun gelanggang – dibawa ‘Umar, menjadi ciri khas kepemimpinannya.
‘Utsman, lelaki pemalu, anak tersayang kabilahnya, datang dari keluarga bani ‘Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman sentausa. ’Umar tahu itu. Maka tak dimintanya ‘Utsman ikut turun ke sengatan mentari bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan diri. Tidak. Itu bukan kebiasaan ‘Utsman. Rasa malulah yang menjadi akhlaq cantiknya. Kehalusan budi perhiasannya. Kedermawanan yang jadi jiwanya. Andai ‘Utsman jadi menyuruh sahayanya mengejar unta zakat itu; sang budak pasti dibebaskan karena Allah & dibekalinya bertimbun dinar.
Itulah ‘Umar. Dan inilah ‘Utsman. Mereka berbeda.
Bagaimanapun, Anas ibn Malik bersaksi bahwa ‘Utsman berusaha keras meneladani sebagian perilaku mulia ‘Umar sejauh jangkauan dirinya. Hidup sederhana ketika menjabat sebagai Khalifah misalnya.
“Suatu hari aku melihat ‘Utsman berkhutbah di mimbar Nabi ShallaLlaahu ‘Alaihi wa Sallam di Masjid Nabawi,” kata Anas . “Aku menghitung tambalan di surban dan jubah ‘Utsman”, lanjut Anas, “Dan kutemukan tak kurang dari tiga puluh dua jahitan.”
Dalam Dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi.
Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.
Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat tulus pada saudara yang sedang diberi amanah memimpin umat. Tetapi jangan membebani dengan cara membandingkan dia terus-menerus kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz.
Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat pada saudara yang tengah diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninya dengan cara menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf.
Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat saudara yang dianugerahi ilmu. Tapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai bahawa Ibrani dalam empat belas hari.
Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh lain pada masa yang berbeda. ‘Ali ibn Abi Thalib yang pernah diperlakukan begitu, punya jawaban yang telak dan lucu.
“Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan ‘Umar” kata lelaki kepada ‘Ali, “Keadaannya begitu tentram, damai dan penuh berkah. Mengapa di masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaanya begini kacau dan rusak?”
“Sebab,” kata ‘Ali sambil tersenyum, “Pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar, rakyatnya seperti aku.
Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”
Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, “Utsman atau ‘Ali.
Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’d ibn Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar, fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.
Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.
Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.
Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang lain adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai sesama mukmin, perbedaan dalam hal-hal bukan asasi
tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”. Istilah yang tepat adalah “shawab” dan “khatha”.
Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuatnya lebih berlainan lagi antara satu dengan yang lain.
Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita pahami, itu tidak seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya.
Imam Asy Syafi’i pernah menyatakan hal ini dengan indah. “Pendapatku ini benar,” ujar beliau,”Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, namun bisa jadi mengandung kebenaran.”
sepenuh cinta,
Salim A. Fillah

Sabtu, 13 Desember 2014


muslim nusantara (diharapkan) menjadi pembebas al aqsa

Sebuah tulisan yang menyentak nurani umat Islam Indonesia menyebar melalui broadcast sosial media Blackberry Messenger dan WhatsApp. Tulisan yang ditulis oleh Salim A. Fillah, Ustadz muda dan penulis buku-buku Islam ini, menuturkan apa yang disampaikan oleh seorang Ulama Palestina,Syaikh Dr. Abu Bakr Al 'Awawidah tentang Peradaban Islam yang silih berganti dipimpin dari bangsa satu ke bangsa yang lain. Hingga menceritakan siapa kelak yang akan memimpin peradaban Islam selanjutnya dan membebaskan Al-Aqsha.Wakil Ketua Rabithah 'Ulama Palestina itu, seperti disebut Salim, menyitir hadist RasululLah bahwa pemimpin peradaban itu berasal dari Timur.

Berikut tulisan lengkap yang dikutip Islamedia.co setelah konfirmasi langsung dari penulisnya melalui media sosial WhatsApp 4 Nopember 2014:

Suatu saat kami duduk di Masjid Jogokariyan, di hadirat Syaikh Dr. Abu Bakr Al 'Awawidah, Wakil Ketua Rabithah 'Ulama Palestina. Kami katakan pada beliau, "Ya Syaikh, berbagai telaah menyatakan bahwa persoalan Palestina ini takkan selesai sampai bangsa 'Arab bersatu. Bagaimana pendapat Anda?"

Beliau tersenyum. "Tidak begitu ya Ukhayya", ujarnya lembut. "Sesungguhnya Allah memilih untuk menjayakan agamanya ini sesiapa yang dipilihNya di antara hambaNya; Dia genapkan untuk mereka syarat-syaratnya, lalu Dia muliakan mereka dengan agama & kejayaan itu."

"Pada kurun awal", lanjut beliau, "Allah memilih Bangsa 'Arab. Dipimpin RasuluLlah, Khulafaur Rasyidin, & beberapa penguasa Daulah 'Umawiyah, agama ini jaya. Lalu ketika para penguasa Daulah itu beserta para punggawanya menyimpang, Allahpun mencabut amanah penjayaan itu dari mereka."

"Di masa berikutnya, Allah memilih bangsa Persia. Dari arah Khurasan mereka datang menyokong Daulah 'Abbasiyah. Maka penyangga utama Daulah ini, dari Perdana Menterinya, keluarga Al Baramikah, hingga panglima, bahkan banyak 'Ulama & Cendikiawannya Allah bangkitkan dari kalangan orang Persia."

"Lalu ketika Bangsa Persia berpaling & menyimpang, Allah cabut amanah itu dari mereka; Allah berikan pada orang-orang Kurdi; puncaknya Shalahuddin Al Ayyubi dan anak-anaknya."

"Ketika mereka juga berpaling, Allah alihkan amanah itu pada bekas-bekas budak dari Asia Tengah yang disultankan di Mesir; Quthuz, Baybars, Qalawun di antaranya. Mereka, orang-orang Mamluk."

"Ketika para Mamalik ini berpaling, Allah pula memindahkan amanah itu pada Bangsa Turki; 'Utsman Orthughrul & anak turunnya, serta khususnya Muhammad Al Fatih."

"Ketika Daulah 'Aliyah 'Utsmaniyah ini berpaling juga, Allah cabut amanah itu dan rasa-rasanya, hingga hari ini, Allah belum menunjuk bangsa lain lagi untuk memimpin penjayaan Islam ini."

Beliau menghela nafas panjang, kemudian tersenyum. Dengan matanya yang buta oleh siksaan penjara Israel, dia arahkan wajahnya pada kami lalu berkata. "Sungguh di antara bangsa-bangsa besar yang menerima Islam, bangsa kalianlah; yang agak pendek, berkulit kecoklatan, lagi berhidung pesek", katanya sedikit tertawa, "Yang belum pernah ditunjuk Allah untuk memimpin penzhahiran agamanya ini."

"Dan bukankah Rasulullah bersabda bahwa pembawa kejayaan akhir zaman akan datang dari arah Timur dengan bendera-bendera hitam mereka? Dulu para 'Ulama mengiranya Khurasan, dan Daulah 'Abbasiyah sudah menggunakan pemaknaan itu dalam kampanye mereka menggulingkan Daulah 'Umawiyah. Tapi kini kita tahu; dunia Islam ini membentang dari Maghrib; dari Maroko, sampai Merauke", ujar beliau terkekeh.

"Maka sungguh aku berharap, yang dimaksud oleh Rasulullah itu adalah kalian, wahai bangsa Muslim Nusantara. Hari ini, tugas kalian adalah menggenapi syarat-syarat agar layak ditunjuk Allah memimpin peradaban Islam."

"Ah, aku sudah melihat tanda-tandanya. Tapi barangkali kami, para pejuang Palestina masih harus bersabar sejenak berjuang di garis depan. Bersabar menanti kalian layak memimpin. Bersabar menanti kalian datang. Bersabar hingga kita bersama shalat di Masjidil Aqsha yang merdeka insyaaLlah."

Ah.. Campur aduk perasaan, tertusuk-tusuk rasa hati kami di Jogokariyan mendengar ini semua. Ya Allah, tolong kami, kuatkan kami..


Ustadz Salim A. Fillah

Berlindung dari Tercabutnya Nikmat Secara Tiba-tiba

Ada yang Allah Ta’ala cabut nikmat-Nya secara tiba-tiba. Yang semula perkasa, tiba-tiba terkulai tak berdaya. Yang awalnya berjaya, terpuruk hingga ke titik yang amat memilukan.
Badan tegap sehat, tiba-tiba koma dan layu tanpa sempat bertaubat. Ia sakit, tapi tak mengurangi dosanya bersebab sakit itu merupakan murka-Nya. Yang demikian ini adalah seburuk-buruk sakit. Derita di badan, tak menjadi keberuntungan di akhirat. Ia sakit, tapi tak mampu mengamalkan sabar karena kesadarannya sudah hilang. Lebih menyedihkan lagi kalau koma yang ia alami adalah sakaratul maut panjang semisal Ariel Sharon.
Maka, kita memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari hal-hal yang demikian. Kita berdo’a kepada-Nya:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala murka-Mu." Do’a dari hadis shahih riwayat Muslim.
Kalaulah kita ditimpa sakit, meski kita tak mengingini, hingga menyebabkan tak sanggup berjalan atau bahkan koma (na’udzubillahi min dzaalik), kita berharap itu adalah sakit yang membersihkan dosa bersebab kita ridha terhadap apa yang ditakdirkan-Nya.
Selebihnya, atas nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepada kita, tampakkanlah selagi mungkin. Bukan untuk bersombong, bukan pula untuk riya’, tapi dalam rangka mengagungkan-Nya.
Rasulullah shallaLlahu ’alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ
"Sesungguhnya Allah senang melihat bekas nikmat-Nya pada hamba-Nya." (HR Tirmidzi).
Semoga kita dapat mengambil pelajaran. Semoga kita tak lalai meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala.

Menjual Surga Demi Membeli Dunia

Khutbah Jum'at Masjid Nabawi 20/2/1436 H – 12/12/2014 M
Oleh : Asy-Syaikh Sholah Al-Budair hafizohulloh


Khutbah Pertama

          Kaum muslimin, sesungguhnya dunia adalah rendah dan fana, adapun akhirat mulia dan kekal. Kita diingatkan oleh ayat-ayat yang mulia dan penuh berkah, maka sungguh beruntung orang yang mendengar dengan seksama nasehat-nasehat yang bermanfaat dan wejangan-wejangan yang mengena. Lalu ia merenungkannya dengan akalnya, memahaminya dengan pikirannya, dan melaksanakannya dengan perkataan dan perbuatannya.

Allah berfirman :

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلا تَعْقِلُونَ

Dan Tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS Al-An'aam : 32)

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى أَفَلا تَعْقِلُونَ

Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, Maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka Apakah kamu tidak memahaminya? (QS Al-Qosos : 60)

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى وَلا تُظْلَمُونَ فَتِيلا

Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun (Qs An-Nisaa : 77)

وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلا مَتَاعٌ

Dan mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, Padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). (QS Ar-Ra'du : 26)

أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلا قَلِيلٌ

Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. (QS At-Taubah : 36)

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (١٦)وَالآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS Al-A'la : 16-17)

          Dunia akan pergi, akan sirna dan berakhir, adapun surga kenikmatan akhirat yang abadi dan kekal.

Dunia adalah kesenangan yang sedikit, rendahan, dan ujungnya adalah fana dan sirna, adapun surga kenikmatan yang abadi, tanpa ada kesudahannya, tidak akan pernah berakhir.

Dari Al-Mustaurid bin Syaddad –semoga Allah meridhoinya- ia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

وَاللهِّ مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟

"Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?" (HR Muslim no 2868)

Dunia seperti air yang tersisa di jari setelah dicelupkan di lautan yang meluap, adapun akhirat maka dialah seluruh lautan yang begitu luas, yang bergejolak ombaknya, dan meninggi terpaannya…,

Maka apakah tidak berfikir tentang hakekat dunia seseorang yang mendahulukan sedikitnya dunia yang akan berakhir di atas mulianya akhirat dan bagiannya yang tinggi?

عَجِبتُ لِمُعجَبٍ بِنَعيمِ دُنيا ... وَمَغبونٍ بِأَيّامٍ لِذاذِ

Aku heran dengan orang yang takjub terhadap dunia….
Dan ia telah tertipu dengan hari-hari penuh kelezatan…

وَمُؤثِرٍ المُقامَ بِأَرضِ قَفرٍ ... عَلى بَلَدٍ خَصيبٍ ذي رَذاذِ

Dan ia lebih mengutamakan untuk tinggal di tanah yang tandus…
Dari pada di negeri yang subur disirami hujan rintik-rintik…

وَدُنْيَاكَ الَّتِي غَرَّتْكَ مِنْهَا ... زَخَارِفُهَا تَصِيْرُ إِلىَ انْجِذَاذِ

Dan duniamu yang telah menjadikanmu terpedaya…
Perhiasannya akan hancur berkeping-keping…


Wahai hamba Allah…jika seandainya dunia berada pada kedua tanganmu, dan ditambah lagi dunia semisalnya untukmu, maka apakah yang tersisa darinya jika maut telah menjemputmu?


أَلاَ يَا سَاكِنَ الْبَيْتِ الْمُوَشَّى .. سَتُسْكِنُكَ الْمَنِيَّةُ بَطْنَ رَمْسِ

Wahai penghuni rumah yang penuh dengan hiasan…
Kematian akan memindahkan tempat tinggalmu ke dalam perut kuburan…

رَأَيْتُكَ تَذْكُرُ الدُّنْيَا كَثِيْرًا .. وَكَثْرَةُ ذِكْرِهَا لِلْقَلْبِ تُقْسِي

Aku melihatmu sering menyebut-nyebut tentang dunia…
Padahal sering mengingat dunia akan mengeraskan hati…

كَأَنَّكَ لاَ تَرَى بِالْخَلْقِ نَقْصًا .. وَأَنْتَ تَرَاهُ كُلَّ شُرُوْقِ شَمْسِ

Seakan-akan engkau tidak melihat manusia berkurang (karena terus ada yang meninggal)…
Padahal engkau melihat mereka (ada yang meninggal) setiap kali bersinar mentari…

وَمَا أَدْرِي وَإِنْ أَمَّلْتُ عُمْرًا .. لَعَلِّي حِيْنَ أُصْبِحُ لَسْتُ أُمْسِي

Dan aku tidak tahu –sementara aku berharap berumur panjang-…
Bisa jadi esok tatkala aku bertemu dengan pagi hari, aku tidak bisa bertemu lagi dengan petang hari…


Wahai hamba Allah…setiap hari selalu ada ibroh dan ibroh (pelajaran) yang datang…, pada setiap kematian ada pengingat untuk berhenti jika engkau termasuk orang yang mau berhenti…

Sampai kapan engkau begini…?, hingga kapan…? Sampai kapan engkau tidak sadar?, hingga kapan engkau tidak bertakwa?

Apakah setelah sirnanya dunia tempat beramal?, ataukah kepada selain akhirat engkau akan berpindah?

Jauh…, sungguh jauh sekali…, akan tetapi kedua telinga telah tuli dari mendengar ayat-ayat…hati telah lalai dari nasehat-nasehat…

Ingatlah waktu kematian….Takutlah engkau dengan waktu datang kematian…

Tangisilah dosa-dosamu yang telah lalu…, selamatkan jiwamu…jika tidak maka jiwamu akan binasa…

Pergilah menuju Robmu…berlepaslah dari dosa-dosamu…

Wahai hamba Allah…


إِلَى  كَمْ  تَمَادَى  فِي  غُرُوْرٍ  وَغَفْلَةٍ        وَكَمْ  هَكَذَا  نَوْمٌ  مَتَى يَوْمُ يَقْظَةِ

Hingga kapan engkau terus menerus tertipu dan lalai….
Begitu pulas engkau tertidur…kapankah hari engkau baru terjaga….

لَقَدْ ضَاعَ عُمْرٌ  سَاعَةٌ  مِنْهُ  تُشِتَرَى        بِمِلْءِ  السَّمَا  وَالأَرْضِ  آيَّةَ ضَيْعَةِ

Telah hilang sia-sia usiamu, yang sesaat dari usiamu dibeli dengan sepenuh langit dan bumi…, maka sungguh besar kesia-siaanmu…

أَفَانٍ بِبَاقٍ تَشْتَرِيْهِ َسَفَاهَةً        وَسُخْطًا   بِرِضْوَانٍ   وَنَارًا بِجَنَّةِ

Apakah engkau membeli sesuatu yang fana dengan bayaran sesuatu yang kekal karena kebodohan, kau beli kemarahan Allah dengan membayar keridhoanNya, kau beli neraka dengan membayar surga…?

أَأَنْتَ عَدُوٌّ أَمْ صَدِيْقٌ لِنَفْسِهِ    فَإِنَّكَ تَرْمِيْهَا بِكُلِّ مُصِيْبَةِ

Apakah engkau adalah musuh atau sahabat bagi dirimu sendiri…?, karena engkau membuangnya setiap kali musibah…

لَقَدْ  بِعْتَهَا خِزْيٌ عَلَيْكَ رَخِيْصَةً     وَكَانَتْ بِهَذَا مِنْكَ غَيْرُ حَقِيْقَةِ

Sungguh engkau telah menjual jiwamu dengan murah…kehinaan bagimu…
Maka jiwamu dengan sikapmu tersebut bukanlah jiwa yang hakiki…



Maka sungguh merugi seseorang yang menjual kenikmatan surga dengan angan-angan dusta…dengan permainan yang menarik dan melalaikan…, dengan syahwat, dan perbuatan-perbuatan buruk, serta aib-aib yang tercela…

Maka sungguh merugi mereka yang menjadikan Allah murka…, mereka menyia-nyiakan umur mereka dalam kemaksiatan dan dosa-dosa..

قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلا ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

Katakanlah: "Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat". ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS Az-Zumar : 15)


إيَّاكَ أعْنِي يا ابْنَ آدَمَ فاسْتَمِعْ.... ودَعِ الرُّكونَ إلى الحياة ِ فتنتفِعْ

Kepadamu tujuanku wahai anak Adam maka dengarlah…
Tinggalkanlah bersandar kepada kehidupan niscaya engkau akan mendapatkan manfaat…

لوْ كانَ عُمْرُكَ ألفَ حولٍ كاملٍ... لمْ تَذْهَبِ الأيّامُ حتى تَنقَطِعْ

Seandainya umurmu sempurna seribu tahun…toh tidaklah berlalu hari-hari hingga akhirnya engkaupun meninggal…

يا أيّها المَرْءُ المُضَيِّعُ دينَهُ،...إحرازُ دينِكَ خَيرُ شيءٍ تَصْطَنِعْ

Wahai yang telah menyia-nyiakan agamanya…jagalah agamamu maka itulah yang terbaik yang kau lakukan…

فامْهَدْ لنَفسِكَ صالحاً تُجزَى بهِ،....وانْظُرْ لِنَفْسِكَ أيَّ أمْرٍ تتَّبِعُ

Siapkanlah untuk dirimu amal sholeh yang akan diberi ganjaran atasnya…

Dan lihatlah, perkara apakah yang (baik) engkau ikuti untuk dirimu…?

واعْلَمْ بأنَّ جَميعَ مَا قَدَّمْتَهُ.... عندَ الإلهِ، مُوَفَّرٌ لكَ لم يَضِعْ

Ketahuilah bahwasanya semua yang telah kau perbuat…

Tersimpan utuh di sisi Tuhan tidak ada yang hilang…


وَمَا تُقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai Balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. dan mohonlah ampunan kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS Al-Muzammil : 20)


Ya Allah anugerahkanlah kepada kami kenikmatan dan karunia, dan ampunilah dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kami… Wahai Yang Maha Baik…Yang Maha Agung…Yang Maha Pengasih…Yang Maha Pemberi anugrah…Yang Maha Menerima taubat…



Khutbah Kedua :

          Kaum muslimin sekalian…sungguh orang yang setiap kali Allah berikan ia karunia dan kenikmatan yang baru…lantas iapun memperbarui juga dosa-dosa, pelanggaran, dan kemaksiatan…

Sungguh celaka orang yang setiap bertambah kebaikan baginya semakin bertambah pula kesesatannya…

Setiap kali bertambah harta dan kekayaannya…maka semakin bertambah pula jauhnya dan semakin tersesat…

Kenikmatan dan pemberian Allah terus tercurahkan kepadanya…, serta karunia dan anugerahNya…

Makanan yang menguatkannya…, air yang menghilangkan dahaganya…, pakaian yang menutup tubuhnya…, rumah yang menaunginya…, istri yang memperhatikan dan menemaninya…, keamanan yang tenteram yang menaungi dan melindunginya…

Sementara ia terus berada di atas dosa-dosa yang menghinakannya…, berlanjut dalam keburukan-keburukannya…terlepas dalam gelimang kemaksiatan…

Maka hendaknya berhati-hatilah dari ujian dengan kenikmatan dan kesenangan…sebagaimana kalian berhati-hati dari ujian kesulitan dan penderitaan…

Bisa jadi anugerah dan karunia datang dalam baju istidrooj dan penangguhan dan penguluran…

Allah berfirman :

وَلا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لأنْفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

"Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan" (QS Ali Imron : 178)

Dari Uqbah bin 'Amir –semoga Allah meridhoinya- ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيْهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ

"Jika engkau melihat Allah memberikan anugerah dunia kepada hambanya apa yang ia sukai, sementara sang hamba bermaksiat kepadaNya, maka sesungguhnya itu adalah istidroj" (HR Ahmad no 17311)

Ya Allah berilah taufikMu kepada kami menuju perkara-perkara yang Kau ridhoi, dan jauhkanlah kami dari perkara-perkara yang tidak Engkau ridhoi…Aaamiin.