lembayung jingga senja menyambut
sayup-sayup panggilan shalat kepada mereka yang terpanggil hatinya. Tidak semua
orang seberuntung itu. Hanya orang-orang yang mau membuka jendela hatinya yang
dapat menerima indahnya cahaya hidayah. Bersyukurlah kita yang masih menikmati
karunia hidayah.
Selepas
shalat maghrib, di sebuah rumah sederhana. Terdapatlah sesosok pemuda sederhana
yang mengajar ngaji puluhan muridnya. Ilmunya standar tak ada yang istimewa,
bacaanya tidak fasih tapi faham tajwid. tapi semua murid menyukai gayannya
dalam mengajar. Tegas tapi tahu waktu kapan becanda dan memecah suasana tegang
sang murid yang tak lancar membaca iqro nya. Tidak seperti biasanya, hari ini
sang guru punya hadaih khusus hasil dari dia mudik selama 3 hari. Sebutir
semangka. Sebutir semangka yang luar biasa.
Puluhan
murid pun langsung menyerbu dia yang sedang memegang semangka di tangan
kanannya dan pisau tajam di sebelah kirinya. Dia letakkan semangka di atas
nampan dan mulai memotong-motongnya. ‘’Ssstt hei bocah-bocah ini ada semangka,
tadi mas bawa dari rumah di batang. Mari di nikmati, tapi ada syaratnya’’ sang
guru berkata. Serentak para murid pun menjawab “ yah kelamaan, mas... langsung
saja... “. Dengan senyum ringan dia pun berkata “begini bocah-bocah, mas kan
kemaren ulang tahun yang ke 27 dan sekarang tanggal tua jadi Cuma ada
semangka.. mas minta do’anya, semoga mas segera dapet jodoh dan menikah... “.
Aamiiinn.... serentak murid-murid mengaminkan doa sang guru. Sebutir semangka
pun di nikmati oleh sekitar 13 orang dan ngaji sore itu pun di tutup dan di
lanjutkan shalat isya.
Hari-hari
pun berlalu tanpa ada hal yang berarti, sang guru tetap mengajar dan para murid
pun tetap tekun mengaji. Sampai suatu malam yakni malam ke 5 pasca pesta
semangka. Ada kejadian menarik. Di tengah tidurnya sang guru terbangun oleh suara
kencang nada dering telepon, ternyata ada telepon dari mantan rekan bisnisnya.
Ada apa gerangan di larut malam seperti ini rekan bisnisnya menelepon, padahal belum
lama mereka baru bertemu. Ternyata sang guru di undang untuk mampir kerumahnya
besok harinya. Mungkin ada bisnis baru atau sekedar silaturrahim. Sang guru pun
menyanggupi karena kebetulan besok dia tidak ada agenda.
Sesampainya
di rumah pak joko rekan bisnisnya, tak ada kecurigaan apa pun. Dia di sambut
dengan penuh hangatnya oleh seluruh anggota keluarga. Tidak lama berselang
jamuan makan siang pun sudah siap, dengan malu-malu sang guru pun menikmati
makan siangnya. Itung-itung pengiritan di tanggal tua pikirnya. Di sela-sela
dia mengunyah dan menikmati makan. tiba-tiba dia tersentak mendengar pak joko
mengatakan hal yang tidak pernah di duganya sama sekali. Pak joko ternyata
menawarkan kepada sang guru, putrinya yang ke 3 untuk di nikahi. Serasa tak
percaya sang guru pun jadi salah tingkah dan mengatakan “jangan becanda pak, ane
jadi geer nih.. “. Ternyata tawaran itu benar adanya. Pak joko pun langsung
mengeluarkan pertanyaan yang membuatnya tak bisa berkutik . “say yes or never”.
Pemuda itu pun kebingungan setengah mati, tak sepatah kata pun bisa di
ucapkannya karena memang dia tak pernah menyangka hal ini akan terjadi. Setelah
berfikir dan termenung sejenak Dia meminta waktu 3 hari untuk memberi jawaban.
Selama
3 hari yang akan membuat sejarah dalam hidupnya, dia pun banyak berkonsultasi
dengan ustadznya dan melakukan istikharah. Tak lazim dalam 3 hari ini pun dia
menjadi seseorang yang sangat rajin beribadah menjadi 2 kali lipat dari
biasanya. Hari ke 3 pun datang dan dia sudah punya keputusan. Dengan sepeda
motor hitamnya dia melaju kencang menuju rumah pak joko. Tanpa basa-basi dia
pun mengatakan “bismillah, saya datang ke sini untuk menyatakn kesiapan saya
menerima tawaran bapak, sekaligus mengajukan khitbah kepada anak bapak”.
Suasana tegang pun mencair seketika. Keputusan itu pun di sanggup gembira oleh
seisi rumah. Sebulan pasca itu pun akhirnya sang guru ngaji mendapatkan pujaan
hatinya dari cara yang baik dan dari arah yang tidak pernah di sangkanya.
Mungkin ini juga hasil do’a para muridnya yang merasa senang ketika menikmati
segarnya buah semangka sebulan lalu.
by: zaharudin
mantabBB
BalasHapusIni kisah fiktif? Atau?
BalasHapus