Rabu, 20 Juni 2012

Kisah sebutir semangka

lembayung jingga senja menyambut sayup-sayup panggilan shalat kepada mereka yang terpanggil hatinya. Tidak semua orang seberuntung itu. Hanya orang-orang yang mau membuka jendela hatinya yang dapat menerima indahnya cahaya hidayah. Bersyukurlah kita yang masih menikmati karunia hidayah.
                Selepas shalat maghrib, di sebuah rumah sederhana. Terdapatlah sesosok pemuda sederhana yang mengajar ngaji puluhan muridnya. Ilmunya standar tak ada yang istimewa, bacaanya tidak fasih tapi faham tajwid. tapi semua murid menyukai gayannya dalam mengajar. Tegas tapi tahu waktu kapan becanda dan memecah suasana tegang sang murid yang tak lancar membaca iqro nya. Tidak seperti biasanya, hari ini sang guru punya hadaih khusus hasil dari dia mudik selama 3 hari. Sebutir semangka. Sebutir semangka yang luar biasa.
                Puluhan murid pun langsung menyerbu dia yang sedang memegang semangka di tangan kanannya dan pisau tajam di sebelah kirinya. Dia letakkan semangka di atas nampan dan mulai memotong-motongnya. ‘’Ssstt hei bocah-bocah ini ada semangka, tadi mas bawa dari rumah di batang. Mari di nikmati, tapi ada syaratnya’’ sang guru berkata. Serentak para murid pun menjawab “ yah kelamaan, mas... langsung saja... “. Dengan senyum ringan dia pun berkata “begini bocah-bocah, mas kan kemaren ulang tahun yang ke 27 dan sekarang tanggal tua jadi Cuma ada semangka.. mas minta do’anya, semoga mas segera dapet jodoh dan menikah... “. Aamiiinn.... serentak murid-murid mengaminkan doa sang guru. Sebutir semangka pun di nikmati oleh sekitar 13 orang dan ngaji sore itu pun di tutup dan di lanjutkan shalat isya.
                Hari-hari pun berlalu tanpa ada hal yang berarti, sang guru tetap mengajar dan para murid pun tetap tekun mengaji. Sampai suatu malam yakni malam ke 5 pasca pesta semangka. Ada kejadian menarik. Di tengah tidurnya sang guru terbangun oleh suara kencang nada dering telepon, ternyata ada telepon dari mantan rekan bisnisnya. Ada apa gerangan di larut malam seperti ini rekan bisnisnya menelepon, padahal belum lama mereka baru bertemu. Ternyata sang guru di undang untuk mampir kerumahnya besok harinya. Mungkin ada bisnis baru atau sekedar silaturrahim. Sang guru pun menyanggupi karena kebetulan besok dia tidak ada agenda.
                Sesampainya di rumah pak joko rekan bisnisnya, tak ada kecurigaan apa pun. Dia di sambut dengan penuh hangatnya oleh seluruh anggota keluarga. Tidak lama berselang jamuan makan siang pun sudah siap, dengan malu-malu sang guru pun menikmati makan siangnya. Itung-itung pengiritan di tanggal tua pikirnya. Di sela-sela dia mengunyah dan menikmati makan. tiba-tiba dia tersentak mendengar pak joko mengatakan hal yang tidak pernah di duganya sama sekali. Pak joko ternyata menawarkan kepada sang guru, putrinya yang ke 3 untuk di nikahi. Serasa tak percaya sang guru pun jadi salah tingkah dan mengatakan “jangan becanda pak, ane jadi geer nih.. “. Ternyata tawaran itu benar adanya. Pak joko pun langsung mengeluarkan pertanyaan yang membuatnya tak bisa berkutik . “say yes or never”. Pemuda itu pun kebingungan setengah mati, tak sepatah kata pun bisa di ucapkannya karena memang dia tak pernah menyangka hal ini akan terjadi. Setelah berfikir dan termenung sejenak Dia meminta waktu 3 hari untuk memberi jawaban.
                Selama 3 hari yang akan membuat sejarah dalam hidupnya, dia pun banyak berkonsultasi dengan ustadznya dan melakukan istikharah. Tak lazim dalam 3 hari ini pun dia menjadi seseorang yang sangat rajin beribadah menjadi 2 kali lipat dari biasanya. Hari ke 3 pun datang dan dia sudah punya keputusan. Dengan sepeda motor hitamnya dia melaju kencang menuju rumah pak joko. Tanpa basa-basi dia pun mengatakan “bismillah, saya datang ke sini untuk menyatakn kesiapan saya menerima tawaran bapak, sekaligus mengajukan khitbah kepada anak bapak”. Suasana tegang pun mencair seketika. Keputusan itu pun di sanggup gembira oleh seisi rumah. Sebulan pasca itu pun akhirnya sang guru ngaji mendapatkan pujaan hatinya dari cara yang baik dan dari arah yang tidak pernah di sangkanya. Mungkin ini juga hasil do’a para muridnya yang merasa senang ketika menikmati segarnya buah semangka sebulan lalu. 

by: zaharudin

2 komentar: