(Ust.Rahmat Abdullah)
Beberapa kali Ied kita,
beberapa kali takbir dimalam dan siang hari raya-hari raya kita dalam beberapa
tahun terakhir masih terus diliputi keprihatinan yang sangat dalam. Hari raya
ditengah asap dan api ; rumah ibadah, rumah tinggal, pasar dan sekolah yang hangus
serta darah yang tertumpah, nyawa yang melayang dan tubuh-tubuh kaku yang
terbunuh. Lebih-lebih lagi pahitnya sebagian petinggi dan orang-orang yang
diberi amanah oleh ma-syarakat mengesankan sikap mendukung, memaklumi atau
me-wajarkan kezaliman. Inna lillahi wainna ilahi raji’un ! Tak ada yang lebih
patut bagi para hamba ALLAH yang beriman kecuali semakin menundukkan kepala,
merendahkan hati dan mengakui segala dosa, seraya memohon taubat dan ampunan
ALLAH
Maka mengapa mereka tidak
memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan
Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan syaitanpun
menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. Maka
tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun
membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka
bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka
dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.
Kisah haji adalah kisah
pengorbanan, sama sebagai-mana sejarah qurban itu sendiri. Tidak ada yang dapat
menyuburkan iman seorang mukmin sebaik pengor-banan, seperti pupuk menyuburkan
tetumbuhan. Seseo-rang yang berjiwa besar sangat sadar bahwa kemuliaan, kepemimpinan
dan kebahagiaan tak mungkin diraih tanpa pengorbanan. Ujian merupakan syarat
naik jenjang dan ke-pangkatan di hadapan ALLAH dan di tengah ummat manusia.
ALLAH berfirman ( 2;124)
Dan (ingatlah), ketika
Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu
Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan
menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya
mohon ju-ga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak
mengenai orang-orang yang zalim".
Seberapa besar ujian yang
dihadapi para rasul, ulama amilin dan mujahidin ? Cobalah bayangkan satu
episode perjalanan nabi Ibrahim AS. Imam Bukhari meriwayatkan :
“…… kemudian Ibrahim
membawa isterinya beserta anaknya (Isail AS) yang sedang disusukannya, sampai
ia meletakkannya di Baitullah di Dauhah, diatas Zamzam (yang belum lagi muncul
kala itu) di bagian masjid yang paling tinggi. Di Makkah waktu itu belum ada
manusia dan belum ada air. Ia letakkan mereka disana. Ia bekali mereka dengan sekantung
kurma dan sekan-tung air dan segera bergegas pergi. Ummu Ismail mengikutinya
sambil bertanya “Wahai Ibrahim, akan kemana kau pergi me-ninggalkan kami di
lembah ini tanpa siapa-siapa tanpa apa-apa ?”. Diucapkannya kalimat itu
berulang-ulang, namun ia tak juga menoleh. Akhirnya Ummu Ismail bertanya :
ALLAH kah yang menyuruhmu melakukan ini ?” Ia menja-wab : “Ya”. Ummu Ismail
berkata : “jika begitu, tentulah Ia takkan sia-siakan kami”, kemudian ia
kembali dan Ibrahim berangkat. Sesampainya di tsaniyah (jalan tinggi di bukit)
tem-pat mereka tak lagi melihatnya, ia hadapkan wajahnya ke Bait Allah, berdoa
dengan beberapa kalimat dan mengangkat kedua tangannya :
Ya Tuhan kami,
sesungguhnya aku telah menempatkan sebaha-gian keturunanku di lembah yang tidak
mempunyai tanam-ta-naman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya
Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah
hati sebagian manusia cenderung kepada me-reka dan beri rezkilah mereka dari
buah-buahan, mudah-mu-dahan mereka bersyukur.
Lihatlah, betapa lurusnya
keluarga ini memandang perintah ALLAH. Betapa ringannya mereka melaksanakan
titah agung i-ni. Mereka utamakan ketaatan daripada kesenangan pribadi. Dari
ketiga permintaan, ternyata yang pertama dimintanya agar ketu-runannya menjadi
penegak shalat, kemudian untuk menopang da’wah ia minta mereka dicintai ummat
manusia, barulah per-mintaan ketiga agar ALLAH memberikan mereka rezki. Padahal
keadaan sangat sulit ; tak ada sanak, kerabat bahkan manusia, tak ada air dan
sumber makanan. Hanya mereka berdua ; seorang perempuan yang baru melahirkan
dan bayi kecil yang baru bebe-rapa belas atau beberapa puluh tahun kedepan
diangkat menjadi rasul.
Dimana keluarga modern
hari ini dengan keturunan yang sangat terjaga dan tercukupi, bahkan dimanjakan
makan minum mereka dibandingkan mereka yang serba kekurangan dan jauh dari
kese-nangan ? Lihatlah bedanya keluarga dunia, benda dan nafsu di-bandingkan
keluarga akhirat, iman dan akhlaq. Apa yang mam-pu dihasilkan keluarga modern
dengan kecukupannya diban-dingkan keluarga para rasul dan orang-orang saleh
dalam keku-rangan mereka. Soalnya bukan soal kaya atau miskin, tetapi
keterikatan dan kesetiaan mereka kepada ALLAH, seperti sifat para pemakmur
masjid dan jamaah kebajikan :
Bertasbih kepada Allah di
masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di
dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan
oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah,
mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada suatu hari saat
hati dan penglihatan menjadi guncang.
Bagaimana para nabi tahan
diejek dan dikucilkan, difitnah dan diintimidasi, dibunuh dan diusir dari tanah
air, suatu hal yang tak pantas dilakukan terhadap manusia-manusia jujur di
tengah bangsanya, yang hewanpun tak pernah mendapat perlakuan zalim dari
mereka.
Dari Urwah, dari Aisyah
RA, beliau pernah berkata : “Demi ALLAH wahai ananda, pernah kami memperhatikan
hilal (bulan sabit), kemudian satu hilal, sampai tiga hilal dalam dua bulan,
tak ada api yang menyala di rumah Rasulullah SAW”. Kuberta-nya : ‘Apa yang
menghidupimu selama itu ?’ Beliau menjawab : “Air dan kurma. Hanya saja
Rasulullah SAW punya tetangga yang memiliki kambing susu, mereka mengirimkan
sebagian susunya untuk minuman kami”
Berkata Utbah bin Ghazwan
dalam satu khutbahnya : “Sungguh kulihat diriku satu dari tujuh orang sahabat
bersama Rasulullah SAW, tak ada lagi makanan pada kami kecuali dedaunan pohon,
sehingga bengkaklah kerongkongan kami. Kutemukan sehelai mantel, kubelah dua
dengan Sa’d bin Malik, setengahnya kupakai dan setengahnya lagi dipakai Sa’d.
Hari ini setiap kami - tanpa kecuali - telah menjadi amir (gubernur) di
kota-kota besar. Aku berlindung kepada ALLAH agar tidak menjadi besar dalam
pandangan sendiri dan kecil dalam pandangan ALLAH”
Apa yang dipanen sebuah
bangsa muslim yang besar ini, saat ba-nyak orang tua hanya berfikir ketika
mendaftarkan anaknya ke sekolah, semoga ia kelak punya kedudukan yang basah
bila jadi pejabat, menjadi orang pintar yang dapat kaya dalam waktu singkat
atau menjadi santeri yang pandai berceramah sehingga laris dan mudah menghimpun
pengikut serta segala kekayaan yang menyusulnya. Betapa rentannya semua ini
menghadapi konflik horizontal, saling bunuh, penghancuran dan pembakaran harta
sesama, pemanjangan derita rakyat dengan KKN baru, ke-dakpedulian terhadap
munculnya berbagai kemunkaran, marak-nya perjudian gelap dan terang, 2 juta
mangsa narkoba yang me-lumpuhkan bangsa ini, pelacuran dengan alasan klasik
kesulitan hidup.
Sebuah masyarakat adalah
cermin keluarga didalamnya. Ke-pemimpinan yang sehat selalu berfikir bagaimana
melayani, mengayomi dan mendidik bangsa ke arah kemuliaan. Bukan mencengkeram
mereka dengan kejam dengan alasan pendewasa-an, pengamanan atau perlindungan,
tidak pula membiarkan me-reka bebas tanpa kendali dengan alasan apapun, baik
HAM, de-mokratisasi atau pemberdayaan masyarakat.
Sesungguhnya dari
berbagai pensikapan bangsa terhadap para rasul mereka, kita dapatkan pelajaran
dan rambu-rambu sangat berharga.
Bila sikap ikhlas,
ketundukan diri dan pengorbanan, menjadi jiwa bangsa, maka generasi yang ada
akan mendapatkan begitu banyak keberkahan. Lihatlah cermin perempuan terdidik
seperti Ummu Ismail AS yang dengan yakin mengatakan : “Idzan la Yudlayyi’ana
(Kalau begitu Ia tak akan sis-siakan kami)”. Dari rahim dan asuhan mereka akan
lahir generasi Ismail AS yang dengan yakinnya menjawab :
Qs. (37:102) :
Maka tatkala anak itu
sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata:
"Hai anakku sesung-guhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.
Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapak-ku,
kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku
termasuk orang-orang yang sabar".
Bila kebodohan dan nafsu
telah menguasai kehidupan suatu ma-syarakat, maka mereka lebih suka memilih
pola hidup material-listik dan hedonik ; semua demi benda dan kesenangan.
Tujuan-tujuan luhur menjadi kabur, nilai dan akhlak mulia menjadi lun-tur,
persaudaraan, kasih sayang dan kesetiaan menjadi hancur.
Peran ibu dirumah tangga
sangat strategis dalam membentuk bangsa.Bentukan baik atau buruk, amanat atau
khianat, iman atau kufur, sangat terkait dengan sikap dan kiprah mereka. Ibu
kandung atau ibu nasab, sama-sama mempunyai pengaruh besar dalam da’wah dan
pendidikan ;
Allah membuat isteri Nuh
dan isteri Luth perumpamaan bagi o-rang-orang kafir. Keduanya berada di bawah
pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu ke-dua
isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada
dapat membantu mereka sedikitpun dari (sik-sa) Allah; dan dikatakan (kepada
keduanya); "Masuklah ke ne-raka bersama orang-orang yang masuk (neraka)".
Dan Allah membuat isteri Fir`aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman,
ketika ia berkata: "Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu
dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir`aun dan perbuatannya dan
selamatkanlah aku dari ka-um yang zalim",
Ibunda nabi Ismail,
ibunda kandung nabi Musa yang melahirkan, menyusukan dan merawatnya dan ibunda
asuh nabi Musa, yang merawatnya dan aktif membelanya dari berkali-kali rencana
pembunuhan oleh Firaun, sejak bayi sampai jadi nabi, semua menunjukkan adanya
ta’tsir (pengaruh) berkesinambungan pada anak nasab ataupun anak asuh. Demikian
halnya peran pendidik di tubuh bangsa sebagai tanggungjawab para pemimpin dan
pe-mimpin tertinggi, bila telah menyimpang dari jalan yang lurus, bersikap seperti
isteri nabi Nuh AS yang mengkhianati ajaran suaminya, maka anak-anak bangsa
akan menjadi seperti anak nabi Nuh yang menolak bergabung dalam bahtera
penyelamat.
Dan bahtera itu berlayar
membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang
anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke
kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang
kafir." Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung
yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang
melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha
Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah
anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.
Kalau hukum,
undang-undang dan para penegak hukum begitu keras kepada pelanggar lalu
lintas….. Kalau para polisi menang-kap pengendara sepeda motor yang tak
menggunakan helm, de-ngan dalih perlindungan batok kepala rakyat, lebih
beralasan lagi bila mereka bertindak tegas melindungi isi yang ada dibalik
ba-tok kepala itu dari segala yang merusaknya, baik dengan meme-rangi
sekeras-keras-nya tayangan, siaran atau penerbitan porno, permissive, atheis,
syirik serta takhayul, khurafat dan bid’ah, yang telah menyebab-kan lebih dari
dua juta rakyat terutama generasi mudanya berge-limang dalam narkoba perjudian,
zina dan berbagai sikap arogan dihadapan ALLAH Rabbul Jalal. Juga memerangi
para koruptor yang telah menyengsarakan rakyat di negeri yang kaya raya ini.
Kalau kekuasaan, kekayaan dan ber-bagai ni’mat yang dilimpah-kan kepada suatu
bangsa, pemerin-tah dan rakyatnya, maka ke-sombongan akan menjadi perhiasan dan
kebanggan mereka. Da’wah keabjikan dianggap gangguan, amar ma’ruf nahi mun-kar
dianggap makar, karena semua tak suka dihalangi dari aksi bunuh diri massal
dalam maksiat yang terlaknat itu. Simaklah komentar bangsa-bangsa dimasa lalu
ke-pada para rasul mereka :
Kaum Nabi Luth
(7;82/27;56)
Jawab kaumnya tidak lain
hanya mengatakan: "Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari
kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan
diri."
Kaum nabi Shalih (11;62)
Kaum Tsamud berkata:
"Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebe-lum ini adalah seorang di antara kami
yang kami harapkan, a-pakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang
disem-bah oleh bapak-bapak kami? dan sesungguhnya kami betul-be-tul dalam
keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada
kami."
Kaum Musyrikin Quraisy
kerabat Rasulu’LLAH Muhammad, Saw.
Dan (ingatlah), ketika
orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap
dan memenjarakan-mu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu
daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu
daya. (Alanfal 30)
Taqwa telah menjadi
kalimat yang begitu gampang diucapkan sembarang mulut, padahal ia adalah sebuah
hakekat, bukan kla-im atau akuan, bukan pula pameran dan kepura-puraan. Ketika
melihat melimpahruahnya jamaah haji, bertuturlah seorang kha-lifah : “Oh,
alangkah sedikitnya orang haji dan alangkah ba-nyaknya wisatawan”. ALLAH
mengingatkan tentang hakekat qurban :
Daging-daging dan darah
qurban itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaan dari
kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk
kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan
berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
Dalam sebuah hadits
Rasulullah SAW menyatakan :
Dari Abi Hurairah RA, ia
berkata : ‘Rasulullah SAW bersabda : “Seorang muslim adalah saudara muslim, ia
tak boleh mengkhianatinya, mendustai-nya, menghinakannya. Setiap muslim haram
bagi sesama muslim ; kehor-matannya, hartanya, darahnya. Taqwa disini (beliau
memberi isyarat ke dadanya). Cukuplah se-seorang (menjadi) jahat karena
menghina saudara muslimnya”
Dari Sa’d bin Abi Waqqash
RA, beliau berkata : “Akulah orang Arab pertama yang melemparkan tombak di
Jalan ALLAH. Sungguh kami pernah berperang bersama Rasulullah SAW, tanpa punya
makanan selain daun hublah dan samur ini. Sungguh kami buang air seperti
kotoran domba, tanpa cam-puran” (Muttafaq Alaih, Bukhari Muslim)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar