Selasa, 06 Januari 2015

Kunci sukses meniti dunia untuk menyambut kebaikan akhirat

kutipan sebagian dari nasihat KH. Amin Mustholih
(di sampaikan pada acara akad nikah temen sholeh masa SMA saya Arif Muhsin vs Tri Rahayu ) 

karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

Dalam mengarungi kehidupan di dunia, pada dasarnya manusia harus bertujuan kepada kehidupan nanti di  akhirat. namun karena banyaknya godaan dalam menjalani hidup, kebanyakan manusia lupa kalau ada kehidupan setelah kematian. Godaan demi godaan akan selalu ada, baik dia orang baik maupun orang jahat. Godaan itu memang sengaja di lancarkan oleh syetan, sesuai dengan janji mereka kepada gusti Allah. Iblis meminta di tangguhkan kematiannya dengan bertujuan akan menggoda anak adam sampai mengikuti iblis seluruhnya. Dan senjata ampuh iblis dan merupakan kelemahan utama manusia adalah nafsu. Orang kaya dengan nafsunya menjadi serakah dan kikir sehingga lalai berzakat, infak dan shodaqoh. Orang miskin dengan nafsunya menjadi lupa kalah sabar dan nerima ( qanaah ) adalah kunci kebahagiaannya. Orang bodoh dengan nafsu nya menjadi malas untuk mempelajari ilmu, sedang orang pintar dengan nafsunya menjadi orang yang merasa paling benar dan tidak mau di sanggah maupun di kritik.

Seperti dalam surat al insyiroh ayat 5-6 gusti Allah sudah memberi ilmunya kepada kita yaitu Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Pada ayat ini Allah memberi sedikit bocoran kepada kita semua bahwa kalau kita ingin sukses, ya kita kudu mengalami kesusahan dulu. Perlu kita renungkan, kalau misalnya kita ingin makan pindang ikan, kita kudu nyarinya ikannya dulu, bisa pergi mancing menjala ikan atau beli ke pasar. Kemudian menyiapkan bumbu-bumbunya, kemudian membersihkan ikannya, kemudian nguleg  bumbunya, baru di masak. Apa ikannya bisa langsung di makan? Belum, kita perlu nunggu dingin dulu ikannya. Apa iya kita mau nekad makan ikan yang baru di kukus langsung panas-panas? Bisa-bisa lidah kita nyoplok, bukan nikmat malah sengsara. Sebelum memakanya kita perlu ambil piring dulu, cuci tangan dan berdoa barulah di makan. Kira-kira nih lama makan ikannya apa lamaan nyiapin makananya?? Lebih nikmat ketika makannya apa ketika menyiapkan makanannya? Ya seperti itulah namanya kemudahan setelah kesusahan, gusti Allah menghendaki kita bersusah-payah dan berlelah-lelah di dunia untuk menerima bayaran berupa surga di akhirat.

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Orang yang mampu cape dan totalitas dalam beribadah dunia dia lah yang akan menerima bayaran Allah berupa syurga. Akan tetapi, tidak semua manusia mampu melakukannya. Nah ada rahasia, cara mudah untuk bisa mencapai level totalitas dalam beribadah yaitu mengarahkan atau membelokkan hawa nafsu kita hanya kepada Allah. Istilahnya mujahadatunnafs, yaitu berjuang melawan hawa nafsu. Andai kata segala tindakan kita dalam berkehidupan sehari-hari selalau bisa mengendalikan hawa nafsu kita, insya Allah kita akan menjadi orang yang sukses dunia dan akhirat. Orang yang kaya yang bisa mengendalikan nafsunya kemudian dia bisa menjadi orang kaya yang dermawan, yang rajin bershodaqoh dan tidak lupa berzakat insya Allah bisa menjadi jalan mengurangi kemiskinan. Orang miskin yang bisa mengalahkan hawa nafsunya bisa sabar dan nerima segala yang di ujikan kepadanya, tidak ada lagi orang yang dengan pede mengaku-aku miskin hanya demi rupiah yang tidak seberapa, orang bodoh yang bisa mengatur hawa nafsunya bisa menjadi orang yang rendah hati mau belajar dengan tekun menutupi kelemahannya dan orang pandai yang cerdas menata hawa nafsunya bisa menjadi orang yang bijak lagi dalam menghadapi permaaslahanya.

Kembali ke surat alam nashroh, dalam 2 ayat ini pun Allah telah memberi kode kepada kita semua, kalau kita menginginkan sesuatu kebahagiaan apapun itu kita maka kita kudu melakukan pengorabanan terlebih dulu yang setimpal dengan kebahagiaan yang kita harapkan. Jangan berharap banyak kalau kita hanya Cuma leyeh-leyeh dan tidak ada sesuatu yang luar biasa kita lakukan. Dan bijaklah dalam mengelola hawa nafsu, siapa yang bisa mengendalikannya dia akan sukses, akan tetapi dia yang menjadi budaknya dia hanya mendapatkan fatamorgana dunia yang berujung pada kesulitan di dunia dan akhirat. Kalau ga percaya ya silahkan di coba dulu, contohnya orang yang terbiasa melampiaskan hawa nafsunya dengan mabuk-mabukan dalam anggapan dirinya dia itu keliatan keren, jantan dan jagoan. Tapi menurut penglihatan manusia waras, dia itu sedang merusak dirinya sendiri. Begitulah syetan selalu menjanjikan keindahan, akan tetapi aslinya adalah kehancuran. Sepeti orang keselong* apa yang di lihatnya adalah keindahan dan kenikmatan akan tetapi aslinya adalah keburukan, seperti melihat sepiring nasi putih lengkap dengan lauk pauknya tapi jebule tlepong (kotoran kuda) kalau pas lagi keselong ya itu enak di makan, coba kalau pas waras mau ga dia memakannya??

*keselong: -mitos orang jawa jaman dulu- istilah bagi orang yang tersesat karena di jebak syetan, ketika dalam keadaan terselong orang akan merasakan berada suatu dunia lain yang berisi kenikmatan, padahal pada kenyataan dia sedang berada di dalam cengkraman syetan di suatu tempat biasanya berupa makam, pohon besar atau gua. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar