Sabtu, 15 Januari 2011

Mulai Dari Diri Sendiri

 oleh : zainal abidin

Setiap kali menempuh perjalanan dengan pesawat terbang, saya selalu berhadapan dengan para petugas front desk di meja check-in. Pada mereka, selalu saya minta untuk dapat duduk di dekat jendela. Alasannya, indahnya pemandangan di luar lebih bisa saya nikmati jika saya ada dekat jendela. Alasan yang lebih penting lagi, saya dapat sandaran tidur yang lebih luas! Hasilnya, kadang-kadang dapat. Lebih sering tidak dapat.

Guru saya mengajarkan, hanya orang gila yang mengharapkan hasil berbeda dengan tindakan yang sama. So, untuk mendapatkan hasil berbeda, saya harus mengubah tindakan. Hanya dengan permintaan, instruksi dan perintah, atau apapun namanya, tidak semua keinginan saya bisa dipenuhi. Apalagi saya bukan atasan para petugas itu. Supaya hasilnya lebih baik, saya harus mengubah apa yang saya lakukan!

Beberapa cara sudah saya lakukan. Tapi hasilnya, tetap saja belum maksimal, sampai kemudian seorang kawan mengajarkan bahwa kita bisa mengubah sikap orang lain dengan cara mengubah sikap kita sendiri.

Mulailah saya bereksperimen. Sejak ada dalam antrian, saya sudah mulai memperhatikan petugas yang bakal melayani saya di meja check-in. Satu pertanyaan sederhana. Kira-kira, apa yang bisa saya puji dari penampilan sang petugas?

Begitu saatnya tiba, saya maju dan berhadapan dengan sang petugas. Mulai pasang senyum terindah, dan meluncurlah serangan gombal saya. 'Selamat siang. Baru potong rambut ya mbak. Kelihatan lebih langsing,' sapa saya sambil menyerahkan tiket.

'Eh iya pak. Mau duduk di mana?' Jawabnya sambil tersenyum.

Aha! Pancingan saya dimakan. Langsung saya jawab, 'Dekat jendela ya. Terima kasih.'

Cara ini berulang-ulang saya terapkan, baik pada petugas yang sama, maupun berbeda. Tersenyum, melancarkan pujian dilanjutkan dengan sedikit permintaan. Hasilnya, 90 persen sukses, bahkan untuk para petugas yang relatif sering bertemu, kursi dekat jendela selalu diberikan tanpa harus meminta. Satu pengecualian, yaitu jika saya datang agak terlambat dan semua kursi di dekat jendela sudah terisi semua!

Sejak dulu saya beranggapan bahwa mengubah sikap orang lain adalah sesuatu hal yang sulit. Tapi kini, hal yang sulit itu bisa jadi lebih mudah. Bukan dengan pendekatan kekuasaan. Bukan dengan uang. Bukan juga dengan pemaksaan. Tapi mulailah dengan mengubah diri sendiri.

Ubahlah dirimu, maka akan kau temui lingkungan sekitarmu ikut berubah!

sumber: http://www.facebook.com/?ref=home#!/note.php?note_id=10150159867139899

Selasa, 11 Januari 2011

Sedikit ulah jail jari jemariku

Satu kata mungkin yang paling di benci oleh seorang sahabat adalah “perpisahan”. Tak ada yang lebih menyakitkan dari itu dan tak ada yang bisa merangsang diri untuk menangis tulus selain moment perpisahan.
Sesuatu yang tak mungkin dapat di hindari, sudah jadi ketentuan bagaiakan terbitnya mentari dari timur dan turunya air hujan ke bawah. Terlalu menyedihkan memang jika terlalu larut dalam perpisahan, apalagi muncul kemungkinan bahwa kita tidak akan bertemu lagi. Akan tetapi apakah tidak ada kebaikan di balik itu semua. Mungkin, untuk sementara logika kita tertutupi oleh perasaan kita. Sehingga semua pikiran sadar buntu, yang ada hanya kesedihan, kecemasan dan kegelisahan akan adanya fakta bahwa kita tidak akan bertemu kembali.  Tapi, jika kita mau sedikit legowo, bisa saja kesedihan itu hanya bertahan sebentar dalam benak kita. Ibarat seorang yang kehausan. Pada saat dia di beri minum untuk 1 gelas pertama kali dia akan sangat berbhagia, minum untuk ke dua kali dia bahagia. untuk ke tiga kalinya dia akan mulai terbiasa dan pada gelas ke 4 mungkin dia akan merasa biasa. Karena sudah terbiasa mengahadapi kepuasan terhadap air dan air itu sudah membasahi organ – organ yang tadinya membutuhkan pembasahan.
Seperti dalam hidup kita air itu adalah kesedihan kita, pada hari atau saat pertama kita di tinggalkan pasti akan muncul perasaan yang sangat. tapi seperti pada gelas ke 3 yang di mana kita sudah mulai terbiasa , perasaan pada manusia pun akan muncul hal demikian yaitu penawar diri atas kesedihan yang mendalam akibat perpisahan yaitu terbiasa. Pada realitanya kita di hadapkan atas 2 pilihan untuk menghadapi “sakit rasa” ini yaitu mempercepat “gelas ke 3” atau berlama-lama dengan gelas pertama. Mari kita renungkan atas keputusan kita. apapun keputusan anda, itulah pilihan anda. Selamat merenung dan mengambil keputusan. Jangan rugikan masa depan anda dengan berlarut-larut dalam kesedihan.
Selamat berpisah kawan, jangan lupakan sosok ini. Seseorang yang mungkin selalu membuat kalian marah atau jengkel. Tapi hati ini akan menyediakan ruang khusus untuk memenjarakan kenangan-kenangan kita. Takkan ku biarkan kalian hilang dari ingatanku. Oke!!! Bye-bye