Sabtu, 22 September 2012

Salah Sedekah Masuk Neraka

by: ustadz  Mohammad Fauzil Adhim 

Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menerima amalan kecuali yang dilakukan semata-mata ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla. Sebanyak apa pun sedekah yang engkau berikan, meski bermilyar-milyar engkau keluarkan, tak akan bernilai kecuali jika memenuhi dua hal, yakni ikhlas dan benar. Ikhlas berarti amal shalih itu dilakukan semata-mata hanya untuk Allah Ta’ala dan tidak berharap kecuali ridha Allah ‘Azza wa Jalla. Kita berharap sepenuh hati dengan rasa takut yang amat sangat sekiranya ada salah dalam niat, iktikad maupun perbuatan dan di saat yang sama penuh harap kepada Allah Ta’ala agar Allah ‘Azza wa Jalla ridha serta merahmati kita. Benar berarti amal shalih itu kita lakukan berdasarkan petunjuk yang pasti dari Allah Ta’ala dan rasul-Nya.

Sesungguhnya, setiap ‘ibadah pada asalnya dilarang kecuali yang diperintahkan atau dianjurkan. Semua ini memerlukan nash yang pasti. Jika tak ada nash yang shahih dan terang, maka tak ada kebolehan untuk melakukan suatu bentuk ‘ibadah. Betapa banyak manusia yang mengada-adakan peribadatan atau amalan sehingga mengesankan bagi manusia tentang betapa shalihnya dia, tetapi tak ada satu pun nash yang dapat menjadi pegangan. Allah Ta’ala dan rasul-Nya tidak memerintahkan, tidak pula membolehkan suatu peribadatan, tetapi sebagian manusia menciptakan sendiri suatu bentuk ‘ibadah dengan menisbahkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Misalnya, jika kita melazimkan diri untuk mengucapkan satu kalimat thayyibah selama sekian ribu kali di waktu tertentu yang juga tidak ada nashnya, maka Allah Ta’ala akan berikan kepadanya dunia yang dikehendaki. Ini tak ada nashnya, manusia mengada-ada, lalu banyak manusia meyakininya sebagai ‘ibadah yang benar.

Allah Ta’ala berfirman

من كان يريد الحياة الدنيا وزينتها نوف إليهم أعمالهم فيها وهم فيها لا يبخسون

“Barangsiapa yg menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (QS. Huud, 11: 15).

أولئك الذين ليس لهم في الآخرة إلا النار وحبط ما صنعوا فيها وباطل ما كانوا يعملون

“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?” (QS. Huud, 11: 16).

Bersedekahlah dan berharaplah dengan sepenuh pengharapan kepada Allah Ta'ala semoga Allah Ta'ala menerima dan ridha dengan sedekah kita. Tetapi jangan bersedekah karena bermaksud mendapat lebih banyak demi melipatgandakan rezeki. Sesungguhnya, mereka yang beramal untuk akhirat niscaya Allah Ta'ala akan lipat-gandakan pahalanya di akhirat. Adapun di dunia, maka boleh jadi Allah Ta'ala akan berikan, boleh jadi tidak. Tetapi yang pasti, niatkan sedekah itu untuk Allah Ta'ala semata. Bukan untuk mendapat yang lebih banyak.

Teringat firman Allah Ta'ala:

ولا تمنن تستكثر ولربك فاصبر

"Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah." (QS. Al-Muddatsir, 74: 6-7).

Takutlah akan neraka, tempat mengerikan yang salah satu dari 3 penghuni pertamanya adalah ahli sedekah yang ia bersedekah bukan karena Allah 'Azza wa Jalla. Periksalah Shahih Muslim bab Al-Jihad.

Apakah kita tidak boleh meminta kepada Allah Ta'ala? Amat boleh. Kita meminta kepada Allah Ta'ala karena yakin kepada-Nya, beriman kepada-Nya dan untuk memenuhi perintah-Nya, yakni perintah untuk meminta hanya kepada Allah 'Azza wa Jalla. Kita memohon kepada Allah Ta'ala karena menyadari hanya Dia tempat bergantung. Bukan karena merasa telah memberi kepada-Nya.

Ingatlah ketika Allah Ta'ala berfirman:

وأمر أهلك بالصلاة واصطبر عليها لا نسألك رزقا نحن نرزقك والعاقبة للتقوى

"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami-lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa." (QS. Thaahaa, 20: 132).

Allah Ta'ala yang memberi. Bukan kita.

Ingin berbincang lebih panjang, tapi ilmu dan kesempatan belum memungkinkan. Tentang salah sedekah, tengoklah Shahih Muslim bab al-Jihad.

Semoga Allah Ta'ala berikan hidayah kepada kita dan merahmati kita di akhirat kelak. Allahumma amin.

Do'akan dan nasehati saya dengan hujjah yang kuat.



sumber

Minggu, 02 September 2012

doa

pada suatu hari ada seorang pengusaha kaya raya berdoa "ya Allah ya tuhanku, engkau tahu atas segalaku.. ya Allah aku memohon kepadaMu limpahkan rizki yang banyak kepadaku dan berikanlah hamba rizki yang halal saja.. aamiin". hari berganti hari bukannya rezeki semakin berlimpah justru antitesa kehidupan yang terjadi kepadanya. mulai dari mobil yang dicuri, toko yang kebakaran dan rumah yang di sita bank. dia mulai frustasi dan bingung kok bisa dia berdoa minta kelimpahan rezeki malahan semua harta yang ada justru di ambil. lama dia merenung dan dia pun sadar terhadap 1 doanya yang berbunyi "dan berikanlah hamba rizki yang halal saja...". dia baru paham ternyata selama ini rezeki yang di perolehnya masih tercampur dengan harta yang haram dan tidak barakah, sehingga runtutan bencana yang menimpanya adalah cara Allah untuk membersihkan hartanya. 
saudaraku, jangan pernah menyalahkan tuhan tapi salahkanlah diri kita dalam cara menyembahNya yang mungkin belum benar sesuai kehendakNya.

Senin, 13 Agustus 2012

Buah Mengimani Hari Akhir


Oleh: KH Rahmat Abdullah

Iman terhadap hari akhir (kiamat) secara khusus diulang-ulang, baik dalam Alquran maupun Hadis. Kerap penyebutan itu terkait dengan penguatan komitmen untuk melaksanakan sesuatu atau untuk meninggalkan sesuatu. ''... jika berselisih tentang sesuatu, hendaklah kalian kembalikan itu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir... (Qs 4:59).

kaki-kaki mereka atas segala yang mereka kerjakan.'' (Qs 36:65). Karenanya, rangkaian amal terkait jenazah bukan hanya berdampak sosial, tetapi juga moral-spiritual.

Alquran berulang-ulang mengantar harapan Rasulullah saw dan para sahabat jauh ke depan, bahwa kemenangan sejati akan mereka capai di akhirat nanti.

Dengan iman terhadap hari akhir, seorang pejuang tidak kenal putus asa. Apa dan berapa saja pengorbanan di jalan Allah, ia sangat yakin akan catatan dan ganjarannya. Bahkan, Alquran melarang mengatakan mujahid yang syahid di jalan Allah sebagai mati karena mereka memang hidup (QS 2:154/ 3:169).

Demikianlah para rasul dan para pengikut tidak merasakan kepedihan dalam perjuangan. Kalau wajah seorang Yusuf AS, remaja yang tampan, telah membuat perempuan-perempuan di Mesir mengiris-iris jari-jari mereka tanpa sadar, betapa keindahan surga dan kepastian janji Allah telah membuat para pejuang di jalan-Nya sama sekali tidak merasa rugi, kalah atau sia-sia. Sebaliknya, mereka yang menzalimi diri sendiri atau sesama harus segera ingat bahwa ada batas usia bagi kehidupan dan ada persidangan yang adil. Sesudah itu kebahagiaan atau kesengsaraan abadi.

Iman terhadap hari akhir menyuburkan sikap tanggung jawab. Mereka yang dipuji-Nya sebagai orang-orang yang ''... pagi dan petang bertasbih di rumah-rumah Allah'' adalah orang-orang yang tidak terlalaikan oleh aktivitas perdagangan dan jual beli, dari mengingat Allah, menegakkan shalat dan menunaikan shalat, ''Karena mereka takut akan hari saat berguncang-guncangnya hati dan penglihatan... (Qs 24:37)

Iman ini juga menghasilkan, memelihara, dan meningkatkan keikhlasan, keteguhan, dan semangat juang. Keberanian, kesungguhan dan optimisme adalah ciri khas mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir.

'Sesungguhnya yang akan memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat serta tidak takut kepada siapa pun selain Allah ....'' (QS 9:18). Penyiksaan terhadap keluarga Yasir RA sangat brutal, khususnya pembunuhan Sumayah, istri Yasir. Tak ada lagi yang dapat dilakukan selain berdoa dan berharap. Keluarlah kata bersayap Rasulullah, ''Bersabarlah, wahai keluarga Yasir, tempat kalian berjumpa (esok) di surga.''

Sangat menyentuh dan membuat gairah takwa saat membaca atau mendengar ayat-ayat Hari Akhir, ''Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.'' (Addzariyat: 14-19).

[Republika, Hikmah, 16 November 2002]

Rabu, 20 Juni 2012

Kisah sebutir semangka

lembayung jingga senja menyambut sayup-sayup panggilan shalat kepada mereka yang terpanggil hatinya. Tidak semua orang seberuntung itu. Hanya orang-orang yang mau membuka jendela hatinya yang dapat menerima indahnya cahaya hidayah. Bersyukurlah kita yang masih menikmati karunia hidayah.
                Selepas shalat maghrib, di sebuah rumah sederhana. Terdapatlah sesosok pemuda sederhana yang mengajar ngaji puluhan muridnya. Ilmunya standar tak ada yang istimewa, bacaanya tidak fasih tapi faham tajwid. tapi semua murid menyukai gayannya dalam mengajar. Tegas tapi tahu waktu kapan becanda dan memecah suasana tegang sang murid yang tak lancar membaca iqro nya. Tidak seperti biasanya, hari ini sang guru punya hadaih khusus hasil dari dia mudik selama 3 hari. Sebutir semangka. Sebutir semangka yang luar biasa.
                Puluhan murid pun langsung menyerbu dia yang sedang memegang semangka di tangan kanannya dan pisau tajam di sebelah kirinya. Dia letakkan semangka di atas nampan dan mulai memotong-motongnya. ‘’Ssstt hei bocah-bocah ini ada semangka, tadi mas bawa dari rumah di batang. Mari di nikmati, tapi ada syaratnya’’ sang guru berkata. Serentak para murid pun menjawab “ yah kelamaan, mas... langsung saja... “. Dengan senyum ringan dia pun berkata “begini bocah-bocah, mas kan kemaren ulang tahun yang ke 27 dan sekarang tanggal tua jadi Cuma ada semangka.. mas minta do’anya, semoga mas segera dapet jodoh dan menikah... “. Aamiiinn.... serentak murid-murid mengaminkan doa sang guru. Sebutir semangka pun di nikmati oleh sekitar 13 orang dan ngaji sore itu pun di tutup dan di lanjutkan shalat isya.
                Hari-hari pun berlalu tanpa ada hal yang berarti, sang guru tetap mengajar dan para murid pun tetap tekun mengaji. Sampai suatu malam yakni malam ke 5 pasca pesta semangka. Ada kejadian menarik. Di tengah tidurnya sang guru terbangun oleh suara kencang nada dering telepon, ternyata ada telepon dari mantan rekan bisnisnya. Ada apa gerangan di larut malam seperti ini rekan bisnisnya menelepon, padahal belum lama mereka baru bertemu. Ternyata sang guru di undang untuk mampir kerumahnya besok harinya. Mungkin ada bisnis baru atau sekedar silaturrahim. Sang guru pun menyanggupi karena kebetulan besok dia tidak ada agenda.
                Sesampainya di rumah pak joko rekan bisnisnya, tak ada kecurigaan apa pun. Dia di sambut dengan penuh hangatnya oleh seluruh anggota keluarga. Tidak lama berselang jamuan makan siang pun sudah siap, dengan malu-malu sang guru pun menikmati makan siangnya. Itung-itung pengiritan di tanggal tua pikirnya. Di sela-sela dia mengunyah dan menikmati makan. tiba-tiba dia tersentak mendengar pak joko mengatakan hal yang tidak pernah di duganya sama sekali. Pak joko ternyata menawarkan kepada sang guru, putrinya yang ke 3 untuk di nikahi. Serasa tak percaya sang guru pun jadi salah tingkah dan mengatakan “jangan becanda pak, ane jadi geer nih.. “. Ternyata tawaran itu benar adanya. Pak joko pun langsung mengeluarkan pertanyaan yang membuatnya tak bisa berkutik . “say yes or never”. Pemuda itu pun kebingungan setengah mati, tak sepatah kata pun bisa di ucapkannya karena memang dia tak pernah menyangka hal ini akan terjadi. Setelah berfikir dan termenung sejenak Dia meminta waktu 3 hari untuk memberi jawaban.
                Selama 3 hari yang akan membuat sejarah dalam hidupnya, dia pun banyak berkonsultasi dengan ustadznya dan melakukan istikharah. Tak lazim dalam 3 hari ini pun dia menjadi seseorang yang sangat rajin beribadah menjadi 2 kali lipat dari biasanya. Hari ke 3 pun datang dan dia sudah punya keputusan. Dengan sepeda motor hitamnya dia melaju kencang menuju rumah pak joko. Tanpa basa-basi dia pun mengatakan “bismillah, saya datang ke sini untuk menyatakn kesiapan saya menerima tawaran bapak, sekaligus mengajukan khitbah kepada anak bapak”. Suasana tegang pun mencair seketika. Keputusan itu pun di sanggup gembira oleh seisi rumah. Sebulan pasca itu pun akhirnya sang guru ngaji mendapatkan pujaan hatinya dari cara yang baik dan dari arah yang tidak pernah di sangkanya. Mungkin ini juga hasil do’a para muridnya yang merasa senang ketika menikmati segarnya buah semangka sebulan lalu. 

by: zaharudin