Rabu, 29 Desember 2010

Belajar dari teko

by: zaharudin

Terdapatlah suatu gundukan tanah lembek, tidak subur dan lengket ketika terinjak. Tanah ini tidak bisa di tanami apapun. Bahkan, air pun tak bisa di serapnya. Ia merasa rendah diri dan iri kepada tanah-tanah lain yang bisa memuliakan kehidupan manusia dengan menyediakan dirinya untuk tumbuhnya bahan makanan bagi mereka. Ia pun menyendiri ke pegunungan mencari tempat pelarian untuk menghilangkan rasa tersebut. Hingga suatu hari, ia di temukan oleh seorang perajin keramik. Ia di gali, dicangkul dan di bawa ke ruangan kerja si perajin. Sesampainya di tempat itu, ia tidak di perlukan dengan baik. Justru di siksa dengan di bejeg-bejeg dan di banting. Tak sampai di situ saja, tapi dia juga di putar-putar dan badannya di remas dan di pilin, sampai bentuknya menjadi aneh. Seakan tanpa ampun kemudian dia di bakar dengan suhu tinggi. Betapa hancur badan dan hatinya. Sang tanah merasa semakin sedih, dia merasa tuhan tidak adil. Sudah di jadikan tanah yang tidak berguna bagi petani sekarang di siksa sedemikian rupa. Berhari-hari di tempat pemanas, kemudian Liat tersebut keluar dari oven raksasa itu. si Liat pun terkejut setengah mati, perasaannya campur aduk antara kaget, sedih, gembira dan was-was. Seraya ia berkata “ boy, kita jadi apa ini?? Its so cool”. Akhirnya jadilah ia sebuah teko. Teko yang memuliakan manusia. Mungkin lebih mulia dari tanah yang subur sekalipun, di hadapan manusia.
Allah tak pernah mengantuk dan tak pernah tidur, semua yang ada di langit dan di bumi adalah miliknya. Maka nikmat tuhanmu yang mana yang engkau dustakan?? Penyiksaan yang di alami oleh tanah liat tersebut adalah gambaran cobaan Allah yang di berikan kepada manusia. Bayangkan jika tanah liat tadi memberontak tidak mau di siksa seperti itu, ia hanya akan jadi tanah yang tidak terpakai.